3 Jenis Komunitas Belajar DI PMM

Kherysuryawan.id – Perbedaan Komunitas Belajar Dalam Sekolah,Komunitas Belajar Antar Sekolah dan Komunitas Belajar di PMM

Halo sahabat kherysuryawan, selamat berjumpa kembali di website pendidikan ini. Pada kesempatan kali ini admin akan membahas tentang jenis komunitas belajar yang dapat dibuat oleh guru di dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM).

 


Ada beberapa menu di dalam aplikasi Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan salah satunya adalah menu Komunitas.

Lantas apa itu komunitas di PMM ?

Komunitas pada platform Merdeka Mengajar adalah sebuah wadah yang dapat digunakan oleh guru untuk berbagi praktik baik dan sarana belajar, juga diskusi bersama guru lain di seluruh Indonesia. Komunitas belajar yang terdaftar di platform Merdeka Mengajar sudah dikurasi oleh tim Kemendikbudristek. 

 

Guru dapat mengikuti kegiatan daring dari komunitas yang diikuti, baik komunitas di dalam satu daerah maupun dari daerah lain.

Ada beberapa manfaat dan tujuan yang bisa di peroleh dalam membuat sebuah komunitas. Melalui Komunitas, guru dapat:

1.     Saling terkoneksi dengan guru lain se-Indonesia dalam sebuah Komunitas Belajar

2.     Saling berbagi praktik baik dan menjadi teman belajar juga berdiskusi terkait hal-hal baru

3.     Belajar langsung kepada Narasumber yang dapat diundang ke sekolah atau komunitas, guna membantu proses Implementasi Kurikulum Merdeka.

 

Bagi anda yang merupakan guru penggerak ataupun sekolah penggerak yang ingin membuat komunitas belajar di PMM maka anda dapat dengan mudah membuat komunitas belajar. Namun demikian anda harus memahami jenis-jenis komunitas yang akan di buat nantinya di Platform Merdeka Mengajar (PMM).

 

Sebagai informasi disini admin kherysuryawan akan menjelaskan tentang 3 jenis komunitas belajar yang bisa di buat atau di daftarkan di Platform Merdeka Mengajar (PMM) yakni Komunitas Belajar Dalam Sekolah, Komunitas Belajar Antar Sekolah dan komunitas belajar dalam PMM. Lantas, apa perbedaan dari ketiga jenis komunitas tersebut ? Nah, melalui artikel ini admin kherysuryawan akan mencoba memberikan penjelasan tentang ketiga jenis komunitas belajar tersebut.

 

Komunitas Belajar di Platform Merdeka Mengajar

Komunitas Belajar pada Platform Merdeka Mengajar merupakan komunitas yang terbentuk secara virtual yang ada di fitur PMM. Komunitas belajar yang terdaftar dalam Platform Merdeka Mengajar dapat berupa komunitas belajar dalam sekolah, maupun komunitas antara sekolah. Saat terdaftar pada platform, maka komunitas tersebut menjadi komunitas daring, yang dapat mewadahi komunitas belajar untuk melakukan aktivitas belajar bersama tanpa ada batasan jarak dan area. Komunitas belajar daring dapat mengoptimalkan PMM sebagai wadah untuk saling berjejaring dan berbagi informasi, sehingga GTKPL di dalamnya lebih mudah dalam meningkatkan pengetahuan berbagai komunitas. PMM juga mewadahi para penggerak komunitas untuk mengadakan webinar yang dapat diikuti oleh pengguna PMM lainnya.

 

A. Apa itu komunitas belajar dalam sekolah?

Komunitas belajar dalam sekolah adalah sekelompok pendidik dan tenaga kependidikan dalam satu sekolah yang belajar bersama-sama dan berkolaborasi secara rutin dengan tujuan yang jelas dan terukur untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar peserta didik.

 

B. Apa tujuan dari komunitas belajar dalam sekolah?

Komunitas belajar dalam sekolah diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pendidik dan membangun budaya belajar bersama yang berkelanjutan, sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik.

 

C. Mengapa komunitas belajar dalam sekolah sangat penting?

Komunitas belajar dalam sekolah sangat penting karena komunitas belajar menjadi wadah untuk merealisasikan terjadinya kolaborasi antar pendidik. Pendidik belajar bersama (tidak terisolasi), pendidik bersepakat tentang standar umum seperti pembelajaran yang efektif, rubrik/indikator penilaian, pendidik bersepakat bahwa pendidikan semua peserta didik adalah tanggung jawab kolektif. Dengan adanya komunitas belajar dalam sekolah, ketimpangan kompetensi antar pendidik dapat diminimalisir, sehingga peserta didik memeroleh pengalaman belajar dengan kualitas yang sama siapapun pendidiknya. Proses belajar dalam komunitas yang terjadi secara berkelanjutan akan membentuk ekosistem dan budaya belajar yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

 

D. Apa yang menjadi acuan dalam mengelola komunitas belajar?

Acuan dalam mengelola komunitas belajar merujuk pada DuFour, et al. (2021) tentang Professional Learning Community.

Terdapat 3 (tiga) ide besar untuk mengoptimalkan terbangunnya komunitas belajar yang berpusat pada pembelajaran peserta didik, yakni:

1. Fokus pada Pembelajaran Ketika belajar bersama di dalam komunitas, pendidik diharapkan berfokus pada pembelajaran peserta didik. Empat pertanyaan kunci menjadi acuan pendidik supaya fokus belajar dan diskusi dalam komunitas belajar adalah pembelajaran peserta didik.

Berikut 4 (empat) pertanyaan kunci tersebut.

a.     Apa yang harus dipelajari peserta didik? Apakah tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik?

b.     Bagaimana mengetahui bahwa peserta didik telah belajar? Bagaimana cara memantau pembelajaran peserta didik?

c.     Apa yang harus dilakukan pendidik jika beberapa peserta didik tidak belajar? Dukungan seperti apa yang diberikan kepada mereka?

d.     Apa yang harus dilakukan pendidik jika beberapa peserta didik telah belajar? Pengayaan seperti apa yang akan diberikan kepada mereka?

 

2. Membudayakan Kolaborasi dan Tanggung Jawab Kolektif Pendidik perlu membangun budaya kolaboratif untuk bekerja bersama dan memikul tanggung jawab kolektif demi membantu peserta didik mengoptimalkan proses belajarnya. Kualitas belajar peserta didik yang optimal sulit tercapai jika pendidik bekerja secara individual (terisolasi). Kolaborasi yang dilakukan pendidik di satuan pendidikan diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan berdiskusi dan berbagi praktik baik pengajaran, namun berlanjut sampai pelaksanaan kegiatan belajar[1]mengajar di kelasnya masing-masing. Oleh karenanya sikap saling membantu, memiliki pemikiran terbuka, dan senang memecahkan masalah bersama perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Perkembangan belajar peserta didik tidak lagi menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing pendidik, namun menjadi tanggung jawab bersama yang perlu diupayakan secara berkelanjutan.

 

3. Berorientasi pada Hasil Belajar peserta didik Menggeser fokus dari mengajar menjadi belajar diharapkan akan membantu pendidik agar tidak hanya memastikan bahwa ia telah mengajar tetapi juga memastikan peserta didiknya belajar. Cara untuk memastikan peserta didik belajar adalah dengan melakukan asesmen yang berkelanjutan dan mendapatkan bukti bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Oleh karenanya, output serta acuan terbangunnya komunitas belajar di satuan pendidikan yang efektif bukan pada seberapa baiknya rencana yang telah disusun dan dilaksanakan, tapi pada seberapa berdampaknya hal tersebut pada peningkatan hasil belajar peserta didik.

 

Hasil belajar peserta didik dalam konteks pembahasan ini bukan berupa nilai angka yang menunjukkan kemampuan kognisi semata, namun berupa tercapainya kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam prosesnya, satuan pendidikan harus secara sistematis memantau pembelajaran peserta didik dan menggunakan bukti pencapaian untuk segera membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dan mendorong perbaikan berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan bantuan dalam proses pembelajaran, diharapkan hasil belajar peserta didik dapat terus meningkat seiring berjalannya waktu.

 

E. Apakah perbedaan komunitas belajar dalam sekolah dengan komunitas belajar antar sekolah, dan komunitas belajar di Platform Merdeka Mengajar?

1. Komunitas Belajar dalam Sekolah

Komunitas belajar dalam sekolah terdiri dari para pendidik yang ada pada satu sekolah. Sekolah dapat menyesuaikan strategi penyelenggaraan komunitas belajar dalam sekolah sesuai dengan karakteristik/kondisi sekolahnya masing-masing. Komunitas belajar dalam sekolah dimungkinkan untuk dibuatkan menjadi klaster/kelompok-kelompok berdasarkan mata pelajaran (untuk jenjang SMP/SMA/SMK), kelas rendah dan kelas tinggi (untuk jenjang SD), ataupun pengelompokkan lainnya. Pengelompokkan ini biasanya disebut MGMP mata pelajaran ataupun KKG mini di sekolah. Disarankan MGMP/KKG (komunitas belajar dalam sekolah) ini tidak lebih dari 10 (sepuluh) orang agar kolaborasi pendidik dapat lebih efektif dan fokus. Pendidik yang tergabung di komunitas belajar dalam sekolah membahas secara mendalam perangkat ajar, fasilitasi dan asesmen pembelajaran peserta didik. Mereka juga dapat saling mengamati pembelajaran di kelas dan melakukan refleksi bersama. Pertemuan pendidik di komunitas belajar dalam sekolah dilakukan secara rutin, umumnya setiap minggu minimal 1 (satu) jam terjadwal dan terstruktur.

 

Selain pertemuan rutin yang terstruktur seperti itu, diskusi dan refleksi informal tentang pembelajaran peserta didik dapat dilakukan di ruang pendidik atau di lingkungan sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, disarankan untuk mendekatkan tempat duduk para pendidik dalam satu komunitas belajar yang sama.

 

Untuk mendukung komunitas belajar dalam sekolah, semua pendidik dalam sekolah dapat dikumpulkan lintas kelas/mata pelajaran untuk mendapatkan pembekalan ataupun penyegaran materi baru tentang kurikulum ataupun transformasi pembelajaran, atau berbagi praktik baik, dan agenda lainnya. Pertemuan ini dilakukan di dalam sekolah secara periodik misalnya satu bulan atau dua bulan sekali untuk mempelajari materi baru.

 

2. Komunitas Belajar antar Sekolah

Komunitas belajar antar sekolah terdiri dari beberapa sekolah. Ragam komunitas belajar antar sekolah meliputi komunitas belajar seperti KKG/MGMP di tingkat gugus ataupun kabupaten/kota, komunitas pendidik penggerak, komunitas sekolah penggerak, atau komunitas belajar antar sekolah lainnya. Pertemuan para pendidik di dalam komunitas belajar antar sekolah juga dilakukan secara rutin biasanya 1 (satu) bulan sekali dengan agenda belajar yang telah ditetapkan. pendidik di dalam komunitas belajar ini dapat menjadi fasilitator kegiatan ataupun penggerak komunitas belajar.

 

3. Komunitas Belajar di Platform Merdeka Mengajar (PMM)

Komunitas Belajar di Platform Merdeka Mengajar adalah kelompok belajar yang ada dalam fitur PMM yang beroperasi secara online. Kelompok ini bisa terdiri dari guru di sekolah yang sama atau dari berbagai sekolah yang berbagi informasi dan belajar bersama melalui platform ini. Ketika terdaftar di PMM, komunitas ini menjadi komunitas daring, yang artinya mereka dapat belajar dan berkomunikasi tanpa terbatas oleh jarak atau lokasi fisik.

 

Komunitas belajar daring ini dapat menggunakan PMM untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan meningkatkan pengetahuan bersama. Para penggerak komunitas juga bisa mengadakan webinar yang bisa diikuti oleh pengguna PMM lainnya. Ini adalah cara untuk memfasilitasi guru dan tenaga pendidik dalam belajar dan berbagi pengetahuan secara online melalui platform PMM.


F. Bagaimana membangun komunitas belajar dalam sekolah?

Untuk memulai komunitas belajar dibutuhkan komitmen dari semua anggota komunitas belajar dalam sekolah. Kepala sekolah diharapkan memahami bagaimana membangun komunitas belajar dalam sekolah. Kepala sekolah memberikan dukungan, menjadi teladan dalam belajar dan berperilaku, serta ikut terlibat belajar dalam komunitas walaupun tidak pada setiap pertemuan. Sebelum proses belajar dalam komunitas dilakukan, diperlukan persiapan-persiapan untuk menyiapkan komunitas belajar beraktivitas.

 

Persiapan Pelaksanaan Komunitas Belajar dalam Sekolah

  1. Kepala sekolah mengumpulkan para pendidik di sekolah untuk berdiskusi dan menyamakan persepsi tentang pentingnya komunitas belajar dalam sekolah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik
  2. Pendidik di dalam setiap komunitas belajar dalam sekolah menyepakati norma komunitas belajar (misalnya hadir tepat waktu, mendengarkan ketika rekan pendidik sedang berbicara, membuka hati untuk mendengarkan pendapat rekan pendidik, transparan/jujur terhadap masalah pengajaran dan pembelajaran yang sedang dihadapi, toleransi terhadap praktik yang belum berhasil, selebrasi keberhasilan, dan lain-lain)
  3. Kepala sekolah dan pendidik bersama-sama menentukan tujuan yang ingin dicapai bersama dalam kurun waktu tertentu.
  4. Kepala sekolah dan pendidik bersama-sama menyusun agenda dan jadwal kegiatan komunitas belajar setiap minggu.

 

Pelaksanaan Pembelajaran dalam Komunitas Belajar dalam Sekolah

Pendidik dalam kelompok kecilnya dapat melakukan berbagai aktivitas. Namun perlu diingat, aktivitas ini haruslah berfokus pada pembelajaran peserta didik. 3 (tiga) ide besar dan 4 (empat) pertanyaan kunci di atas menjadi pegangan pendidik dalam beraktivitas di komunitas belajar dalam sekolah.

 

Komunitas belajar dalam sekolah wajib memastikan terjadinya 5 hal sebagai berikut:

  1. Tim bekerja secara kolaboratif dan mengambil peran dan tanggung jawab bersama.
  2. Menerapkan kurikulum pada setiap tahapannya.
  3. Memantau pembelajaran siswa dengan proses penilaian berkelanjutan.
  4. Menggunakan hasil penilaian umum untuk melatih anggota komunitas, membangun kapasitas tim komunitas, memperluas pembelajaran dengan memfokuskan pada peningkatan hasil belajar siswa.
  5. Memberikan intervensi dan pengayaan yang sistematis.

 

Berikut ini ragam aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan di komunitas belajar dalam sekolah:

  1. Bersama-sama menyiapkan dan mereviu RPP/Modul Ajar yang telah disusun. Empat pertanyaan kunci dijadikan acuan untuk melihat apakah RPP yang telah susun sudah berpusat pada peserta didik. Empat pertanyaan kunci yang dapat ditanyakan para pendidik dalam komunitas belajar ketika berdiskusi mereviu RPP/modul ajar sebagai berikut. Apakah tujuan pembelajaran ini yang ingin dicapai peserta didik? Apakah langkah-langkah pembelajaran ini sudah optimal melayani peserta didik dengan keragaman mereka? Jika ada peserta yang belum belajar apa saja yang dapat dilakukan? Jika sudah belajar, supaya tidak bosan, apa saja yang harus diberikan kepada peserta didik? Apakah asesmen yang ditulis sudah sesuai dengan pencapaian tujuan pembelajaran?
  2. Mendiskusikan rubrik penilaian bersama sehingga memiliki persepsi yang sama dalam menginterpretasikan rubrik.
  3. Berbagi masalah pembelajaran yang dihadapi peserta didik, dan mendiskusikan alternatif pemecahan masalah bersama-sama.
  4. Bertukar menilai hasil belajar peserta didik
  5. Saling mengobservasi pembelajaran di kelas masing-masing dan melakukan refleksi hasil observasi bersama-sama (misalnya seperti pada Lesson Study)
  6. Berbagi praktik baik yang telah dilakukan.
  7. Melakukan riset bersama terhadap masalah pembelajaran yang dihadapi
  8. Selebrasi keberhasilan komunitas belajar

 

Catatan.

Dalam penyelenggaraan komunitas belajar, agar dapat berjalan secara efektif, ada hal-hal yang harus “ketat”, dan fleksibel. Hal yang perlu ”ketat” atau wajib dilakukan misalnya pertemuan harus rutin setiap minggu, komunitas belajar harus menerapkan 3 (ide) besar yaitu fokus pada pembelajaran, kolaboratif dan tanggung jawab kolektif, dan menggunakan hasil belajar peserta didik sebagai bukti belajar, dengan mengacu pada 4 (empat) pertanyaan kunci. Sedangkan, hal yang dapat fleksibel misalnya model pembelajaran atau kreativitas dan inovasi lain dalam memfasilitasi proses pembelajaran, dan lain-lain.

 

Untuk lebih jelasnya maka anda bisa mendapatkan file yang akan membasas secara lengkap mengenai komunitas belajar yang ada di PMM. Di bawah ini admin kherysuryawan bagikan filenya :

 

  • Penjelasan Komunitas Belajar di PMM (DISINI)


Demikianlah informasi mengenai jenis komunitas belajar yang bisa anda buat di dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM), semoga informasi ini bisa menambah pemahaman anda tentang pentingnya membuat dan memahami tentang komunitas belajar dalam sekolah maupun komunitas belajar antar sekolah.

Sekian dan Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel