Soal dan Pembahasan PPPK Guru Penjas Tahun 2024

Kherysuryawan.id – Soal, kunci jawaban serta pembahasan PPPK Penjas untuk guru jenjang SD, jenjang SMP, jenjang SMA dan juga jenjang SMK.

Jika pada postingan sebelumnya saya telah benyak membagikan soal-soal latihan PPPK serta soal tryout PPPK untuk beberapa mata pelajaran mulai dari jenjang paud, jenjang SD, hingga jenjang SMP dan SMA/SMK maka di kesempatan kali ini saya akan kembali membagikannya kepada anda khusus untuk soal latihan PPPK mata pelajaran Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK).

 


Soal latihan PPPK penjaskes yang akan saya bagikan pada kesempatan kali ini yaitu terdiri dari soal kompetensi pedagogik dan juga soal kompetensi professional sehingga materi dan soal yang di sajikan disini akan sangat membantu anda yang akan melakukan pembelajaran mandiri dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi PPPK.

 

Sebagai informasi pula bahwa di setiap soal yang disajikan pada postingan ini, baik soal pedagogik maupun soal professional semuanya telah di sediakan lengkap dengan kunci jawaban  dan juga pembahasannya. Untuk pembahasan yang di berikan juga sangat mendetail sehingga akan sangat membantu siapapun yang akan mempelarinya.

 

Apabila anda adalah seorang guru penjas dan akan melakukan pendaftaran untuk ikut seleksi PPPK maka anda sangat perlu sekali untuk mempelajari soal-soal latihan P3K ini karena soal-soal latihan ini dapat memberi tambahan ilmu untuk bisa menjadi tambahan wawasan anda dalam memahami soal-soal PPPK untuk mata pelajaran penjas.

 

Baiklah untuk anda yang ingin mengetahui jenis-jenis soal latihan PPPK mapel penjas baik soal kompetensi pedagogik maupun soal kompetensi professional, maka silahkan anda simak latihan soal PPPK penjas lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasannya di bawah ini:

 

1. Manakah rumusan indikator pencapaian kompetensi yang sesuai dengan standar kompetensi

mempraktekkan hasil analisis keterampilan gerak salah satu permainan bola besar untuk menghasilkan

koordinasi gerak yang baik adalah ...

A. Menjelaskan dan mengidenTIfi kasi lempar tangkap bola dengan 4 variasi berbeda dengan benar

B. Menjelaskan lempar tangkap bola dengan 4 variasi yang berbeda dengan benar

C. Mempraktekkan shooTIng dengan 4 variasi berbeda dengan benar

D. Mengevaluasi gerak lempar tangkap bola dengan 4 variasi berbeda secara benar.

E. Mempraktekkan lempar tangkap bola dengan 4 variasi berbeda dengan benar.

Kunci: C

Pembahasan

Ketentuan Perumusan Indikator

1. Indikator dirumuskan dari KD

2. Menggunakan kata kerja operasional (KKO) yang dapat diukur

3. Dirumuskan dalam kalimat yang simpel, jelas dan mudah dipahami.

4. Tidak menggunakan kata yang bermakna ganda

5. Hanya mengandung satu tindakan.

6. Minimal terdiri dari dua aspek yaitu tingkat kompetensi dan materi pelajaran

7. Memperhatikan karakteristik mata pelajaran, potensi & kebutuhan peserta didik, sekolah, masyarakat

dan lingkungandaerah;

 

2. Manakah tujuan pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi mempraktikkan hasil analisis

keterampilan gerak salah satu permainan bola besar untuk menghasilkan koordinasi gerak yang baik

adalah ...

A. Setelah melalui proses pembelajaran peserta didik dapat menjelaskan dan mengidentifi kasi

lempar tangkap bola dengan 4 variasi berbeda dengan benar

B. Setelah melalui proses pembelajaran peserta didik dapat menjelaskan lempar tangkap bola

dengan 4 variasi yang berbeda dengan benar

C. Setelah mengikuti proses pembelajaran peserta didik dapat mempraktekkan shooting dengan 4

variasi berbeda dengan benar

D. Setelah mempelajari materi ini anda dapat mengevaluasi gerak lempar tangkap bola dengan 4

variasi berbeda secara benar.

E. Setelah melalui proses pembelajaran peserta didik dapat mempraktekkan lempar tangkap bola

dengan 4 variasi berbeda dengan benar.

Kunci: C

Pembahasan

Tujuan pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh

peserta didik setelah mengikuTIkegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran

merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas pembelajaran. Maka, tujuan pembelajaran

dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur. Tujuan pembelajaran

mengacu pada kompetensi dasar yang hendak harus dicapai dalam pembelajaran. Di samping itu, tujuan

pembelajaran dijadikan acuan dalam pemilihan jenis materi, strategi, metode, dan media pembelajaran

yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

Terdapat empat unsur pokok dalam perumusan tujuan pembelajaran, diantaranya :

1. Audience

Secara bahasa audience berarti pendengar. Dalam konteks pembelajaran yang dimaksud audience

adalah siswa. Audience merupakan subjek sekaligus objek dalam pembelajaran. Maka, dalam tujuan

pembelajaran harus menempatkan siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam pembelajaran.

 

2. Behavior

Behavior adalah tingkah laku atau aktivitas suatu proses. Dalam konteks pembelajaran, behavior

nampak pada akTIvitas siswa dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, pembelajaran tanpa adanya

tingkah laku atau aktivitas dari siswa tidak mungkin dilakukan. Dalam perumusan tujuan

pembelajaran gambaran behavior aktivitas siswa ditulis menggunakan kata kerja operasional

seperti : menyimak, menyebutkan, membedakan, menjelaskan, dan masih banyak lagi. Penggunaan

kata kerja operasional dalam suatu tujuan pembelajaran tidak boleh lebih dari satu. Artinya dalam

sebuah aktivitas pembelajaran, siswa tidak boleh melakukan lebih dari satu perbuatan. Maka, siswa

harus fokus pada satu perbuatan agar pembelajaran lebih opTImal.

 

3. Condition

Condition atau kondisi diartikan sebagai suatu keadaan. Dalam konteks pembelajaran, condiTIon

adalah keadaan siswa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas pembelajaran, serta persyaratan

yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai. Dalam perumusan tujuan

pembelajaran, condition ditulis dalam bentuk kata kerja. Kata kerja yang dimaksud adalah akTIvitas

yang harus dilakukan siswa agar tercapai suatu perubahan perilaku yang diharapkan.

 

4. Degree

Dalam konteks ini degree berarTI suatu perbandingan. Hal ini dimaksudkan untuk membandingkan

kondisi sebelum dan setelah belajar. Degree juga merupakan TIngkat penampilan yang dapat dilakukan

oleh siswa setelah melalui suatu rangkaian proses pembelajaran. Tingkat degree bergantung pada

bobot materi yang akan disajikan, serta sejauh mana siswa harus menguasai suatu materi atau

menunjukan suatu TIngkah laku.

 

3. Perencanaan pembelajaran harus dilakukan oleh guru PJOK sebelum pelaksanaan pembelajaran,

dengan memperTImbangkan materi, proses, sumber belajar, dan juga media pembelajaran. Apabila

ada guru yang akan mengajar senam di sekolah yang terletak di daerah pinggiran, TIdak ada internet,

belum memiliki proyektor. Media apa yang tepat digunakan oleh guru tersebut adalah:

A. Video

B. Gambar

C. Guru/Siswa

D. Boneka Peraga

E. Modul

Kunci: C

Pembahasan

Jawaban C guru/siswa sebagai media pembelajaran efekTIf dan efi sien. Gambar dan Boneka Peraga perlu

bahan (biaya).

• Tujuan instruksional. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang pencapaian tujuan instruksional

yang telah ditetapkan sebelumnya. Mungkin ada sejumlah alternaTIve media yang dianggap cocok

untuk tujuan-tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok. Kecocokan banyak ditentukan

oleh kesesuaian karakterisTIk tujuan dan karakterisTIk media pembelajaran yang akan dipakai.

• KeefekTIfan. Dari beberapa alternaTIve media yang sudah dipilih, mana yang dianggap paling efekTIf

(tepat guna) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

• Siswa. Apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan kemampuan, perbendaharaan pengalaman,

dan menarik perhaTIan siswa? Digunakan untuk siapa? Apakah secara individual atau kelompok kecil,

kelas atau massa? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh?

• Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalau belum, apakah media itu

dapat diperoleh dengan mudah? Untuk tersedianya media ada beberapa alternaTIf yang dapat diambil

yaitu membuat sendiri, membuat bersama-sama siswa, meminjam, menyewa, membeli dan mungkin

dapat “dropping” dari pemerintah.

• Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah tersedia biaya untuk itu?

Apakah yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain

yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefekTIfan setara?

Kualitas teknis. Apakah media yang dipilih itu kualitasnya baik? Jika menggunakan media gambar

misalnya, apakah memenuhi syarat sebagai media pembelajaran? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih itu?

Menurut Degeng, dkk (1993), pemilihan dan penggunaan sumber belajar haruslah didasarkan pada hal-hal berikut ini:

1. Analisis karakterisTIk siswa.

2. Adanya tujuan dan isi instruksional.

3. Adanya strategi pengorganisasian pembelajaran.

4. Adanya strategi penyampaian.

5. Adanya strategi pengelolaan pembelajaran.

6. Adanya pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran

 

4. Merumuskan kegiatan awal, kegiatan inTI, dan kegiatan akhir merupakan rincian dari pengembangan

rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang diturunkan dari komponen pada silabus yang berupa ...

A. Standar kompetensi

B. Materi pokok/pembelajaran

C. Langkah-langkah pembelajaran

D. Alokasi waktu

E. Sumber belajar

Kunci: C

Pembahasan

Langkah-langkah pengembangan RPP:

1. Pengkajian silabus melipuTI: (1) KI dan KD; (2) materi pembelajaran; (3) proses pembelajaran; (4)

penilaian pembelajaran; (5) alokasi waktu; dan (6) sumber belajar;

2. Perumusan indikator pencapaian KD pada KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4;

3. Materi Pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran dan buku panduan guru, sumber belajar

lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar yang di kelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial;

4. Penjabaran Kegiatan Pembelajaran yang ada pada silabus dalam bentuk yang lebih operasional

berupa pendekatan sainTIfi k disesuaikan dengan kondisi siswa dan satuan pendidikan termasuk

peng gunaan media, alat, bahan, dan sumber belajar;

5. Penentuan alokasi waktu untuk seTIap pertemuan berdasarkan alokasi waktu pada silabus, selanjutnya dibagi ke dalam kegiatan pendahuluan, inTI, dan penutup;

6. Pengembangan penilaian pembelajaran dengan cara menentukan lingkup, teknik, dan instrumen

penilaian, serta membuat pedoman penskoran;

7. Menentukan strategi pembelajaran remedial segera setelah dilakukan penilaian; dan

8. Menentukan Media, Alat, Bahan dan Sumber Belajar disesuaikan dengan yang telah ditetapkan dalam langkah penjabaran proses pembelajaran.

 

5. Seorang guru melakukan kegiatan pendahuluan sebagai berikut:

• Membariskan siswa berbentuk 2/3 bersayap antara laki-laki dan perempuan terpisah secara rapih

dilanjutkan berhitung

• Berdo’a secara bersama-sama antara guru dan siswa.

• Mengabsen kehadiran siswa

• Memberikan apersepsi materi dan penyampaian materi yang akan diajarkan secara singkat

dengan dihubungkan kemanfaatanya dan dorongan pemberian moTIvasi.

• Mengadakan pemanasan (Warming Up) diawali dengan lari keliling lapangan permainan sebanyak

4 keliling.

• Dilanjutkan dengan kegiatan laTIhan fisik sesuai/mendukung dengan materi drible dan passing

da lam permainan bola basket

 

Aktivitas yang kurang tepat dalam kegiatan pendahuluan adalah:

A. Membuka pembelajaran dengan salam dan berdoa.

B. MemasTIkan kesiapan siswa untuk mengikuTIpembelajaran.

C. Melakukan apersepsi dan memoTIvasi siswa.

D. Menyampaikan manfaat pembelajaran.

E. Kegiatan laTIhan fi sik sesuai/mendukung dengan materi

Kunci: E

Pembahasan

Kerangka pembelajaran merupakan rangkaian akTIvitas yang dirancang oleh guru untuk mencapai

keempat jenis kompetensi dasar tersebut, melipuTI: pendahuluan, inTI dan penutup.

1. Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan yang dapat dilakukan oleh guru antara lain sebagai berikut.

a. Membuka pembelajaran dengan salam dan berdoa.

b. MemasTIkan kesiapan siswa untuk mengikuTIpembelajaran.

c. Melakukan apersepsi dan memoTIvasi siswa.

d. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang akan dinilai.

e. Menjelaskan skenario pembelajaran.

f. Melakukan pemanasan yang terkait dengan materi pembelajaran.

 

2. Kegiatan InTI

Kegiatan inTImerupakan penerapan secara operasional model/pendekatan/metode/gaya yang

dipilih sesuai dengan kompetensi dasar dan karakterisTIk siswa. Contoh menggunakan gaya mengajar

resiprokal sebagai berikut:

a. Siswa mencari pasangan sesuai dengan petunjuk guru.

b. Siswa bersama pasangannya menerima dan mempelajari lembar kerja yang dibagikan guru

(berisi langkah kerja dan tugas gerak yang harus dilakukan).

c. Siswa membagi tugas, siapa yang pertama kali menjadi pelaku dan siapa yang menjadi pengamat.

d. Siswa yang berperan sebagai pelaku melakukan tugas gerak, dan pengamat mengamaTI . Jika

pelaku melakukan kesalahan, pengamat memberi koreksi sesuai dengan kriteria yang terdapat

dalam lembar tugas.

e. PerganTI an peran sebagai pelaku dan pengamat atau sebaliknya dilakukan sesuai kesepakatan

masing-masing pasangan.

f. Selama proses pembelajaran guru melakukan pengamatan dan penilaian, tanpa melakukan

intervensi terhadap pelaku. Pada seTI ap kesempatan guru dapat menghenTI kan akTI vitas

pembelajaran untuk melakukan koreksi umum dan mengundang dialog terkait masalah teknik

dan mekanika gerak dari gerak yang dipelajari.

g. Di akhir pembelajaran guru mengundang beberapa pasangan siswa menampilkan hasil belajar

di hadapan siswa lainnya.

 

3. Kegiatan Penutup

Kegiatan penutup yang harus dilakukan oleh guru sebagai berikut:

a. Melakukan pendinginan sekaligus menjelaskan fungsinya.

b. Melakukan tanya-jawab dengan siswa yang berkenaan dengan materi pembelajaran yang telah

diberikan.

c. Guru membuka dialog atau mengingatkan kembali tentang nikmat dan karunia Tuhan atas

kemampuan gerak yang dimiliki oleh siswa yang senanTI asa harus disyukuri seTI ap waktu.

d. Melakukan penilaian terhadap ketercapaian indikator

e. Bersama siswa guru membuat simpulan materi, melakukan refl eksi dan TI ndak lanjut dari materi

pembelajaran yang telah diberikan.

f. Setelah melakukan akTI vitas pembelajaran seluruh siswa dan guru berdoa dan bersalaman.

Dari proses pembelajaran sebagaimana uraian tersebut dapat digambarkan bahwa kompetensi dasar

yang melipuTI kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu, dan

diharapkan dapat dicapai melalui satu kegiatan pembelajaran secara bersamaan.

 

6. Seorang guru melakukan kegiatan penutup dengan akTI vitas sebagai berikut:

• Peserta didik melakukan penguluran dan pelepasan

• Peserta didik membuat resume dengan bimbingan guru tentang point-point penTI ng yang muncul

dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan.

• Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai, langsung diperiksa. Peserta didik yang selesai mengerjakan projek dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian projek.

• Memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik

• Menyampaikan materi yang akan diajarkan pertemuan berikutnya.

 

Aktivitas yang belum dilakukan dalam kegiatan penutup di atas adalah ...

A. Melakukan pendinginan sekaligus menjelaskan fungsinya.

B. Melakukan tanya-jawab dengan siswa yang berkenaan dengan materi pembelajaran yang telah

diberikan.

C. Melakukan penilaian sesuai indikator pencapaian kompetensi

D. Bersama siswa guru membuat simpulan materi, melakukan refl eksi dan TI ndak lanjut dari materi

pembelajaran yang telah diberikan.

E. Setelah melakukan akTI vitas pembelajaran seluruh siswa dan guru berdoa dan bersalaman.

Kunci: E

Pembahasan

Belum menutup dengan doa

 

7. Dalam pelaksanaaan proses pembelajaran seorang guru PJOK memberikan hukuman kepada siswa

yang salah dalam melakukan praktek lompat TI nggi gaya menyamping, dalam hal ini sebenarnya guru

PJOK telah memberikan umpan balik pada kategori:

A. Ekstrinsik

B. Instrinsik

C. MoTI vasional

D. Informasional

E. Reinforcement

Kunci: E

Pembahasan

Fungsi feedback adalah memberikan moTI vasi, reinforcement (Harsono, 1988:89) atau punishment (Rusli

Lutan, 1988; Apruebo, 2005).

Dengan diperolehnya gambaran yang kongkrit perihal kemampuan yang dimiliki oleh seorang siswa, baik

keunggulan maupun kelemahannya apalagi kalau dibandingkan dengan siswa yang lainnya, maka hal itu

akan dapat memacunya lagi untuk berbuat yang lebih baik dari yang sudah dilakukannya. Dengan kata

lain, gambaran kemampuan yang dimiliki seorang siswa akan menjadi daya dorong/moTI vasi apabila guru penjas mampu menyampaikannya dengan tepat melalui pemberian sTI mulus agar siswa semakin rajin berlaTI h. Dalam konteks pembelajaran penjas, umpan balik juga sebagai penguat/reinforcement atas TI ndakan ata u perilaku yang sudah dilakukan siswa. Jika perilaku siswa itu sesuai dengan harapan guru maka hal itu harus diperkuat untuk tetap dipelihara. Sebaliknya jika perilaku itu TI dak sesuai dengan harapan guru maka harus ada hukuman (funishment) agar perilaku itu TI dak terjadi dan terulang kembali, dan perilaku itu mengarah pada TI ndakan yang sesuai dengan harapan guru.

Secara umum umpan balik atau feedback terbagi ke dalam dua jenis yaitu intrinsic feedback dan extrinsic feedback (Apruebo, 2005). Intrinsic feedback atau umpan balik intrinsik berkaitan dengan penilaian terhadap dirinya sendiri, tentang sikap, akTI vitas dan atau perilaku yang telah dilakukannya, derta tentangkemampuan yang telah ditunjukkannya. Misalnya dalam melaksanakan tugas gerak, apakah akTI vitas yang dilakukan sudah sesuai dengan yang diinstruksikan guru, apakah sudah mampu menyelesaikan keseluruhan tugas gerak, apakah merasa nyaman dengan alat bantu yang digunakan, atau menilai bahwa rangkaian gerakan senam telah sesuai dengan urutan yang harus dilakukan. Sedangkan extrinsic feedback adalah umpan balik yang berasal dari luar dirinya. Misalnya koreksi dari guru penjas atas gerakan yang sudah dilakukan, cemoohan rekan karena salah memberikan umpan keTI ka bermain bola, atau dari lingkungan sekitar seperTI cuaca yang terlalu panas sehingga mengharuskannya sering berisTI rahat di tempat yang teduh.

Umpan balik mempunyai TI ga fungsi utama, yakni informasional, moTI vasional, dan komunikasional.

1. Fungsi Informasional

Tes sebagai alat penilain pencapaian/hasil belajar siswa diperiksa menurut kriteria tertentu yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Hasil tes itu, dengan demikian memberikan informasi tentang sejauhmana siswa telah menguasai materi yang diterimanya dalam proses/kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan informasi ini dapat diupayakan umpan balik berupa pengayaan atau perbaikan.

Informasi yang diberikan dalam umpan balik dibedakan atas lima TI ngkat, yakni:

a. Tidak ada umpan balik

b. Umpan balik berupa keterangan mengenai salah atau benar jawaban yang diberikan siswa

c. Umpan balik berupa keterangan mengenai salah benara jawaban ditambah dengan menunjukkan

jawaban yang benar (knowledge of the correct response/KCR)

d. KCR + penjelasan; dan

e. KCR + pengajaran tambahan.

 

2. Fungsi MoTI vasional

MoTI vasi dapat diarTI kan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk berTI ndak atau melakukan sesuatu. Dorongan itu hanya mungkin muncul dalam diri siswa manakala siswa merasa

mem butuhkan (need). Siswa yang merasa butuh akan bergerak dengan sendirinya untuk memenuhi

ke butuhannya.

Dengan pemberian umpan balik, maka tes dapat sekaligus berfungsi sebagai moTI vator bagi siswa

untuk belajar. Namun terkadang guru memanfaatkan tes dadakan sebagai alasan untuk motovasi

siswa dalam belajar. Berharap agar siswa termoTI vasi dalam belajar dan selalu siap menerima tes

sebagai kriteria keberhasilan dalam pembelajaran, tes dadakan justru dianggap kurang tepat. Hal

tersebut justru akan menimbulkan kecemasan pada siswa saat mengerjakan soal-sola tes, dan hasil

kinerja siswa kurang maksimal.

 

3. Fungsi Komunikasional

Pemberian umpan balik merupakan komunikasi antara siswa dan guru. Guru menyampaikan hasil

evaluasi kepada siswa, dan bersama siswa membicarakan upaya peningkatan atau perbaikannya.

Dengan demikian, melalui umpan balik siswa mengetahui letak kelemahannya, dan sendiri atau

bersama guru bereaksi terhadap hasil tersebut.

Pengukuran tentang taraf atau TI ngkatan keberhasilan proses belajar mengajar berperan penTI ng.

Karena itu, pengukurannyaharus betul-betul syahih (valid), andal (reliable), dan lugas (objecTI ve). Hal

ini mungkin tercapai bila alat ukurannya disusun berdasarkan kaidah, aturan, hukum atau ketentuan

penyusunan buTI r tes.

Pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebegai berikut:

a. Mengulang pokok bahasan seluruhnya

b. Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai

c. Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama-sama

d. Memberikan tugas-tugas khusus.

 

8. Seorang guru PJOK sedang mengajarkan materi gerak rangkaian guling depan dan guling lenTI ng,

dengan cara menjelaskan dengan suara yang lantang, kemudian memberi contoh dalam berbagai

posisi, berkeliling untuk melihat secara lebih dekat gerakan yang dilakukan oleh siswa, memperhaTI kan

peserta didik dengan menyebutkan namanya, memandang mata peserta didik yang sedang diajak

bicara. Dengan demikian guru tersebut sudah melaksanakan variasi dalam …

A. Penggunaan media

B. Gaya mengajar

C. Pola interaksi

D. Kegiatan siswa

E. Metode mengajar

Kunci: B

Pembahasan

Variasi dalam mengajar dapat dilakukan dengan penggunaan suuara maupun dengan isyarat-isyarat non

verbal, seperTI pandangan mata, ekspresi roman muka, gerak-gerik tangan atau kepala dan gerak badan.

Selain itu masi ada isyarat ekstra verbal yaitu intonasi dan warna serta bunyian. Komponen utama dalam

mengadakan variasi adalah :

Variasi dalam gaya mengajar

• Penggunaan variasi suara. Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dari

TI nggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat

memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.

• Pemusatan perhaTI an siswa. Guru dapat memusatkan perhaTI an siswa pada hal-hal yang dianggap

penTI ng dapat dengan gaya bahasa menurut kebutuhan anak.

• Kesenyapan guru. Adanya kesenyapan, atau “selingan diam” yang TI ba-TI ba dan disengaja selagi guru

menerangkan sesuatu, merupakan alat yang baik untuk menarik perhaTI an siswa.

• Mengadakan kontak pandang dan gerak. Apabila guru sedang berbicara atau berinteraksi dengan

siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata murid-murid untuk

menujukkan adanya hubungan yang akrab dengan mereka.

• Gerakan badan dan mimik. Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan

adalah aspek yang sangat penTI ngdalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhaTI an dan untuk

menyampaikan arTI dari pesan lisan yang di maksudkan.

• PerganTI an posisi guru di dalam kelas. PerganTI an guru di dalam kelas dapat di gunakan untuk

mempertahankan perhaTI an siswa. Terutama sekali dalam menyampaikan pelajaran di dalam kelas,

gerakan hendaknya bebas,TI dak kikuk atau kaku, dan hindari TI ngkah laku negaTI f.

Variasi dalam penggunaan media pembelajaran

Media pembelajaran, apabila di TI njau dari indera yang di gunakan, dapat di golongkan ke dalam TI ga

bagian,yakni dapat di dengar, dilihat, dan diraba. PerganTI an penggunaan jenis yang lain mengharuskan

anak menyesuaikan inderanya, sehingga dapat memperTI nggi perhaTI snya. Hal itu karena seTI ap

mempunyai perbedaan kemampuan dalam menggunakan alat inderanya. Ada anak yang termasuk TI pe

visual, audiTI f, atau motorik.

• Variasi yang dapat dilihat. Media yang termasuk ke dalam jenis ini ialah:grafi k, bagan, poster, gambar,

fi lm, dan slide.

• Variasi media yang dapat didengar. Suara guru termasuk di dalam media komunikasi yang utama didalam kelas. Rekaman suara, suara radio, musik, deklamasi, puisi, sosiodrama, telepon, dapat di pa kai

sebagai penggunaan indera dengan di variasikan dengan indera lainya.

• Variasi media yang dapat diraba, di manipulasi dan di gerakan. Yang termasuk di dalam hal ini, misalnya peragaan yang di lakukan oleh guru atau siswa, model, patung, topeng, dan boneka yang dapat di

gunakan anak untuk di raba, di pergerakan dan di manipulasi.

• Variasi media yang dapat di dengar. Media yang termasuk ini, misalnya fi lm, televisi,slide projektor

yang di iringi penjelasan guru. Tentu saja penggunanyaa sesuai dengan tujuan yang hendak di capai.

Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa

Pola interaksi guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar nemiliki corak yang sangat beraneka ragam.

Mulai dari kegiatan yang di dominasi oleh guru sampai kegiatan mandiri yang di lakukan oleh siswa. Hal

ini bergantung pada ketrampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Penggunaan variasi

pola interaksi guru-siswa dan siswa-siswa agar kegiatan pembelajaran TI dak menimbulkan kebosanan,

kejenuhan. Suasana kelas pun menjadi hidup.

 

9. Guru menerapkan aturan disiplin kelas, peserta didik yang terlambat lebih dari lima menit dihukum

lari keliling lapangan sepakbola sebanyak 4 kali. Pengelolaan kelas ini menggunakan pendekatan:

A. Otoriter

B. Permisif

C. Modifi kasi TI ngkah laku

D. Kelompok

E. Individual

Kunci: A

Pembahasan

Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977)

diklasifi kasikan kedalam TI ga pengerTI an, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach),

pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifi kasi TI ngkah laku. Berikut dijelaskan

pengerTI an masing-masing pendekartan tersebut,

Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru

untuk mengontrol TI ngkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui

penerapan disiplin secara ketat (weber)

Kedua, pendekatan permisif mengarTI kan pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru

untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai akTI fi tas sesuai dengan yang mereka

inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan

akTI fi tas di dalam kelas.

KeTI ga, pendekatan modifi kasi TI ngkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan

proses perubahan TI ngkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan

memfasilitasi perubahan prilku yang bersifat posiTI f dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin

mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negaTI f yang dilakukan oleh siswa.

Adapun macam-macam pendekatan-pendekatan lainya:

1. Pendekatan Kekuasaan

Pendekatan kekuasaan seperTI yang diuraikan oleh Djamarah (2006 : 179) guru menciptakan dan

mem pertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut murid

un tuk mentaaTI nya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaaTI anggota

kelas.

 

2. Pendekatan Pengajaran

Pendekatan pengajaran, pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam perencanaan

dan pelaksanaannya akan mencegah munculnya masalah TI ngkah laku murid dan memecahkan

masalah itu bila TI dak bisa dicegah.

 

3. Pendekatan Kerja Kelompok

Pendekatan kerja kelompok, dalam pendekatan ini guru menciptakan kondisi – kondisi yang

memungkinkan kelompok yang produkTI f, selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar

tetap baik.

 

4. Pendekatan elekTI s atau pluralisTI c

KeTI ga pendekatan tersebut oleh guru digabungkan digunakan untuk mengelola kelas. Sehingga

tercipta pendekatan elekTI s atau pluralisTI c. Menurut Djamarah, Pendekatan elekTI s yaitu guru

kelas memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapi dalam suatu situasi

mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi yang lain mungkin mengkombinasikan keTI ga

pendekatan tersebut.

Pendekatan elekTI s (elecTI c approach) ini menekankan pada potensialitas, kreaTI fi tas, dan inisiaTI f wali

atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya.

Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi

lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau keTI ga pendekatan tersebut. Pendekatan elekTI s

disebut juga pendekatan pluralisTI k, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai

macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu

kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efekTI f dan efi sien. Guru memilih dan

menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud

dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru

untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar

mengajar berjalan secara efekTI f dan efi sien.

Selain keTI ga pendekatan yang disebutkan diatas menurut pendapat lain ada yang mengatakan

adanya pendekatan ancaman, pendekaran resep, pendekatan perubahan TI ngkah laku, pendekatan

kebebasan, dan Pendekatan sosio-emosional

 

5. Pendekatan Ancaman

Dari pendekatan ancaman atau inTI midasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses

untuk mengontrol TI ngkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol TI ngkah laku anak didik dilakukan

dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.

 

6. Pendekatan Resep

Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daŌ ar yang dapat menggambarkan

apa yang harus dan apa yang TI dak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah

atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daŌ ar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus

dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuTI petunjuk seperTI yang tertulis dalam resep

 

7. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diarTI kan sebagai suatu proses untuk mengubah

TI ngkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan TI ngkah laku anak didik yang baik,

dan mencegah TI ngkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan TI ngkah laku

(behavior modifi caTI on approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral. Program

atau kegiatan yang yang mengakibatkan TI mbulnya TI ngkah laku yang kurang baik, harus diusahakan

menghindarinya sebagai penguatan negaTI f yang pada suatu saat akan hilang dari TI ngkah laku murid

atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan TI ngkah laku yang baik

atau posiTI f harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan

senang atau puas. Sebaliknya, TI ngkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas

diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan TI dak puas dan pada gilirannya TI ngkah

laku tersebut akan dihindari.

 

8. Pendekatan Kebebasan

Pengelolaan diarTI kan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk

mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal

mungkin kebebasan anak didik.

 

9. Pendekatan Sosio-Emosional

Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang

baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut melipuTI hubungan antara guru dan murid serta

hubungan antar murid. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut.

Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan

hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan murid yang posiTI f, sikap

mengerTI dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.

Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan penTI ngnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness,

congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring,

trust) dan mengerTI dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphaTI c understanding).

 

10. Guru memberi memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas

pada peserta didik yang berperilaku posiTI f, menunjukkan peningkatan performa. Sebaliknya,

TI ngkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang

akan menimbulkan perasaan TI dak puas dan pada gilirannya TI ngkah laku tersebut akan dihindari.

Pendekatan pengelolaan kelas yang demikian termasuk:

A. Pendekatan kekuasaan

B. Pendekatan otoriter

C. Pedekatan kebebasan

D. Pendekatan perubahan TI ngkah laku

E. Pendekatan kerja kelompok

Kunci: D

Pembahasan

Sama dengan penjelasan pada pembahasan indikator sebelumnya no.9

 

11. Dalam melakukan penilaian tentang sikap fairplay yang terjadi dalam suatu pertandingan dapat

dirumuskan suatu tugas dengan kata kerja di bawah ini.

A. Menyusun

B. Menghargai

C. Menganalisis

D. Bekerjasama

E. Mentoleransi

Kunci: C

Pembahasan

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam 3 domain, yaitu:

1. KogniTI f, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperTI pengetahuan, pengerTI an, dan keterampilan berpikir.

2. AfekTI f, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperTI minat, sikap,

apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

3. Psikomotor, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperTI tulisan

tangan, mengeTI k, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Dalam taksonomi Bloom, kata kerja yang merefl eksikan ranah afekTI f adalah menerima, menanyakan,

menjawab, parTI sipasi, menerima, dll. Sedangkan menganalisis termasuk dalam ranah kognTI f.

 

12. Rubrik dapat digunakan untuk membantu peserta didik mengukur sejauhmana kompetensi yang

dimiliki dan dapat digunakan sebagai bagian dari perbaikan pembelajaran. Salah satu tujuan rubrik

seperTI yang digunakan siswa tersebut bisa berfungsi untuk:

A. MemoTI vasi

B. Menghakimi

C. Menentukan peringkat

D. Kelengkapan administrasi

E. Syarat serTI fi kasi

Kunci: A

Pembahasan

Tujuan dari penilaian rubrik yaitu siswa diharapkan secara jelas memahami dasar penilaian yang akan

digunakan untuk mengukur suatu kinerja siswa. Kedua pihak (guru dan siswa) akan mempunyai pedoman bersama yang jelas tentang tuntutan kinerja yang diharapkan. Rubrik diharapkan pula dapat menjadi pendorong atau moTI vator bagi siswa dalam proses pembelajaran.

 

13. Guru akan mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan keterampilan motoriknya. Untuk itu

guru dapat melakukan drengan menggunakan:

A. Rubrik

B. Tes tertulis

C. Tes komputer

D. Tes keterampilan dan pengukuran

E. Tes lisan

Kunci: D

Pembahasan

Kegunaan Tes dan Pengukuran (1) Menentukan Status: di dalam pendidikan adalah yang harus

diperhaTI kan adalah perkembangan anak, maka seharusnya pembina atau guru olahraga mengetahui

sampai di mana perkembagan itu terjadi. Untuk itu harus dilakukan pengukuran agar diketahui

status pada suatu saat ataupun dari waktu ke waktu. (2) Klasifi kasi: di sekolah biasanya klasifi kasi

keolahragaan berdasarkan TI ngkat kelas bukan berdasarkan kemampuan atau keterampilan anak. Kalau

dipandang dari sudut kematangan jasmaniahnya atau ketangkasan mereka itu berbeda. Oleh karena

itu pengelompokan hendaknya berdasarkan kemampuan umum ketangkasan dan diatur sesuai dengan

kemajuan pembelajarannya. (3) Diagnosa dan Bimbingan: bimbingan dimaksudkan supaya seTI ap anak

memperoleh jalan di dalam menghadapi kesukaran-kesukaran yang dialami. Bimbingan mengharuskan

adanya evaluasi tentang kapasitas dan kemampuan anak sehingga proses pengajaran dapat disesuaikan

dengan kebutuhan anak. (4) MoTI vasi: Achievement score/nilai dalam keolahragaan dapat menjadi

perangsang bagi anak untuk berlaTI h lebih giat. (5) Perbaikan mengajar: tesTI ng dan evaluasi adalah

suatu bagian dari pengajaran mempunyai tempat yang tepat dalam program pengajaran. Tes harus

ditempatkan pada bagian yang sudah dirancang pada tujuan pembelajaran sebelumnya sehingga nilai

tes tersebut dapat digunakan sesuai dengan tujuan dari bahan pembelajaran yang disajikan.

 

14. KeTI ka guru melakukan penilaian dengan memberikan cara siswa melakukan penilaian diri sendiri

dalam proses pembelajaran, maka hal tersebut memenuhi salah satu prinsip:

A. Penilaian untuk pembelajaran

B. Penilaian hasil pembelajaran

C. Evaluasi

D. Pembelajaran

E. Penilaian rapor

Kunci: A

Pembahasan

Beberapa prinsip penilaian sebagai bagian dari pembelajaran yaitu: (1) Penilaian menentukan bagaimana

siswa belajar. Proses pembelajaran harus ada dalam pikiran guru dan siswa keTI ka penilaian direncanakan

dan keTI ka bukTI atau keterangan ditafsirkan. Siswa perlu menyadari tentang bagaimana pembelajaran mereka. Penilaian untuk belajar berpusat pada prakTI k dalam ruang kelas. AkTI vitas-akTI vitas guru dan siswa

yang dilakukan dalam kelas dapat diuraikan sebagai suatu penilaian. Dalam hal ini, tugas dan pertanyaan

yang mendorong siswa untuk mempertunjukkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mereka.

Apa yang siswa katakan dan lakukan kemudian diamaTI dan ditafsirkan, dan membuat penetapan tentang

bagaimana pembelajaran dapat diperbaiki. Proses penilaian ini merupakan bagian esensial dari prakTI k

dalam kelas seTI ap hari dan melibatkan guru dan siswa dalam refl eksi, dialog dan membuat keputusan.

(2) Penilaian merupakan kunci keterampilan profesional untuk guru. Guru memerlukan pengetahuan

dan keterampilan profesional untuk merencanakan penilaian, mengamaTI pembelajaran, menganalisis

dan menafsirkan keterangan pembelajaran, memberikan umpan balik untuk siswa dan membantu siswa

dalam penilaian diri sendiri. Guru harus dibantu dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan

seperTI itu melalui pengembangan profesional secara konTI nu. Umpan balik merupakan prinsip yang

sangat krusial dalam penilaian untuk belajar, oleh karena itu umpan balik harus sensiTI f dan konstukTI f

karena sembarangan penilaian mempunyai emoTI onal impact. Guru harus menyadari dan mengerTI

bahwa pengaruh komentar yang diberikan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan antusiasme siswa,

sehingga harus disusun secara konstukTI f dalam bentuk umpan balik yang diberikan. Komentar-komentar tersebut difokuskan pada pekerjaan daripada persoalan pribadi mereka dan disusun secara konstrukTI f untuk pembelajaran dan moTI vasi. (3) Penilaian untuk belajar harus mempromosikan komitmentujuan pembelajaran dan membagi pemahaman tentang kriteria dengan mereka yang dinilai Untuk berlangsungnya pembelajaran yang efekTI f, siswa perlu memahami apa yang mereka sedang berusaha untuk mencapainya. Pemahaman dan komitmen siswa merupakan bagian dalam memutuskan tujuan dan mengidenTI fi kasi kriteria untuk menaksir kemajuan. Mengkomunikasikan kriteria penilaian dengan mereka dalam suatu diskusi yang menggunakan isTI lah yang mereka dapat pahami, memberikan contoh tentang bagaimana kriteria dapat dijumpai dalam prakTI k dan melibatkan siswa dalam self-assessment.

(4) Penilaian harus menolong pembelajar untuk mengetahui bagaimana memperbaiki belajarnya.

Siswa-siswa memerlukan informasi dan petunjuk untuk merencanakan langkah-langkah belajar

mereka berikutnya. Guru harus menunjukkan dengan tepat kekuatan siswa dan menasehaTI bagaimana

cara mengembangkannya, menjelaskan kelemahan dan bagaimana cara mereka mengatasinya, dan

menyediakan kesempatan siswa untuk memperbaiki pekerjaan mereka. (5) Penilaian mengakui semua

capaian prestasi pendidikan yang diraih oleh siswa. Penilaian untuk belajar harus digunakan untuk

memberi kesempatan lebih banyak pada semua siswa untuk belajar dalam semua akTI vitas bidang

pendidikan. Di samping itu, harus memungkinkan mencapai prestasi yang terbaik dan menghargai serta

mengakui usaha mereka. Berdasarkan prinsip nilai untuk belajar tersebut di atas, tampak bahwa guru

dan siswa memainkan peran yang utama dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran

dalam kelas. Guru diarahkan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang profesional dalam

mengajar, sedangkan siswa-siswa diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajarnya

dengan melibatkan mereka dalam penilaian melalui self-assessment, sehingga kualitas proses dan

produk pembelajaran menjadi lebih baik.

 

15. Seorang guru pendidikan jasmani meminta siswa melakukan pengamatan video suatu Pertandingan

sepakbola dari sisi bagaimana pemain menerapkan takTI knya. Kegiatan ini dapat disebut sebagai

pendekatan sainTI fi k dengan cara:

A. Eksperimentasi

B. MengamaTI

C. Mengomunikasi

D. Menalar

E. Mempresetasikan

Kunci: B

Pembahasan

Pedekatan sainTI fi k dapat dilakukan dengan mengamaTI , menanya, menalar, mengokumnikasikan,

melakukan eksperimentasi. Untuk kegiatan mengamaTI , dapat disebut sebagai proses mengenal objek

melalui penggunaan indra yang dimiliki, misalnya dengan melihat/menonton, mendengarkan, dan

membaca. Sehingga peserta didik akan memperoleh konsep awal dan menemukan permasalahanpermasalahan dalam materi yang akan dipelajari. Proses ini juga menyebabkan peserta didik memahami obyek secara nyata, senang, tertantang, dan memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya. Contoh kegiatan mengamaTI dalam pembelajaran materi pokok sepak bola:

• Mencari dan membaca informasi variasi dan kombinasi teknik teknik permainan sepak bola (mengumpan, mengontrol, menggiring, posisi, dan menembak bola ke gawang) dari berbagai sumber media cetak atau elektronik. Proses pengamatan ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah pembelajaran.

• MengamaTI pertandingan sepak bola secara langsung dan atau di TV/Video dan membuat catatan

tentang variasi dan kombinasi teknik dasar (mengumpan, mengontrol, menggiring, dan menembak

bola ke gawang) dan membuat catatan hasil pengamatan, atau

Bermain sepak bola dan yang lainnya mengamaTI pertandingan tersebut, dan membuat catatan tentang

kekuatan dan kelemahan variasi dan kombinasi (mengumpan, mengontrol, menggiring, posisi, dan

menembak bola ke gawang) yang dilakukan oleh temannya selama bermain.

 

16. Guru yang menugaskan siswa untuk membentuk Tim dengan idenTI tas TI m, nama TI m, susunan

pemain, desain seragam dapat dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperaTI f

dengan tujuan di bawah ini, KECUALI:

A. Belajar akademik

B. Penerimaan terhadap keragaman

C. Pengembangan keterampilan olahraga

D. Pengembangan keterampilan social

E. Pengembangan kemampuan penyelesaian masalah

Kunci: C

Pembahasan

Pembelajaran kooperaTI f atau cooperaTI ve learning merupakan isTI lah umum untuk sekumpulan stra tegi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa. Tujuan pembelajaran kooperaTI f seTI dak-TI daknya melipuTI TI ga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar aka demik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky (1978, 1986) yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kogniTI f. Selain itu, metode ini juga didukung oleh teori belajar informaTI on processing dan cogniTI ve theory of learning. Dalam pelaksanaannya metode ini membantu siswa untuk lebih mudah memproses informasi yang diperoleh, karena proses encoding akan didukung dengan interaksi yang terjadi dalam pembelajaran kooperaTI f. Pembelajaran dengan metode pem belajaran kooperaTI f dilandasakan pada teori cogniTI ve karena menurut teori ini interaksi bisa mendukung pembelajaran. Metode pembelajaran kooperaTI f learning mempunyai manfaat-manfaat yang posiTI f apabila diterapkan di ruang kelas. Beberapa keuntungannya antara lain: mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru, kemampuan untuk berfi kir, mencari informasi dari sumber lain dan belajar dari siswa lain; mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya; dan membantu siswa belajar menghormaTI siswa yang pintar dan siswa yang lemah, juga menerima perbedaan ini.

 

17. Dalam pembelajaran lempar lembing, guru memberikan handout tentang teknik melakukannya.

Siswa mempelajari dan memprakTI kan sendiri keterampilannya. Gaya mengajar tersebut termasuk

gaya mengajar ...

A. Komando

B. Timbal balik

C. Alat bantu

D. Inisiasi siswa

E. Konvergen

Kunci: A

Pembahasan

Gaya A: Komando (Command).

Tujuan dari gaya ini adalah untuk mempelajari cara mengerjakan tugas dengan benar dan dalam waktu yang singkat, mengikuTI semua keputusan yang dibuat oleh guru. Dalam model ini semua akTI vitas pembelajaran, keterlaksanaannya hanya dan sangat tergantung pada guru. Dapat dikatakan peserta didik ’akan bergerak’ hanya bila gurunya memerintahkannya untuk bergerak. Situasi demikian menyebabkan peserta didik pasif dan TI dak diperkenankan berinisiaTI f. Akibatnya peserta didik TI dak mampu mengembangkan kreaTI vitas, khususnya kreaTI vitas dalam bergerak. Hakikat: respon langsung terhadap sTI mulus. Penampilan harus akurat dan cepat. Model sebelumnya direplikasi.

 

Gaya B: LaTI han (PracTI ce).

Gaya ini memberikan siswa untuk berlaTI h secara individu dan mandiri, serta menyediakan guru waktu untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada siswa secara individu dan pribadi. Peserta didik mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dalam model tugas, guru mendelegasikan sebagian kewenangannya pada peserta didik. Guru memberikan tugas belajar gerak, idealnya secara tertulis berupa kartu tugas, peserta didik diberi kesempatan dan kewenangan untuk menentukan sendiri kecepatan dan kemajuan belajarnya.

 

Gaya C: Timbal Balik (Resiprocal).

Pada gaya ini, siswa bekerja dengan temannya dan memberikan umpan balik kepada temannya itu, berdasarkan criteria yang ditentukan oleh guru. Hakikat: siswa bekerja sama dengan teman; menerima umpat balik langsung; mengikuTI kriteria yang dirancang guru; dan mengembangkan umpan balik dan keterampilan bersosialisasi.

 

Gaya D: Evaluasi Diri (Shelfcheck).

Tujuan dari gaya ini adalah untuk memahami cara mengerjakan tugas dan memeriksa atau mengevaluasi pekerjaan sendiri. peserta didik mengukur sendiri kinerjanya berdasar kriteria gerak yang diberikan. Hakikat: Siswa mengerjakan tugas secara individu dan mandiri, memberikan umpan balik untuk dirinya sendiri dengan menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh guru.

 

Gaya E: Inklusi (Inclusion).

Tujuan dari gaya ini adalah untuk memahami cara memilih tugas atau kegiatan yang bisa ditampilkan dan memberikan tantangan untuk mengevaluaisi pekerjaan sendiri. Dalam hal ini penentuan TI ngkat kemampuan ditentukan sendiri oleh peserta didik yang bersangkutan. Mengingat beragamnya TI ngkat kemampuan peserta didik dan sebagai konsekuensi dari pemberian kebebasan bagi peserta didik untuk menentukan sendiri di tahap kesulitan mana dia akan belajar, maka pelaksanaan model ini memerlukan kelengkapan dan kecukupan sarana dan prasarana. Hakikat: Tugas yang sama dirancang menggunakan level kesulitan yang berbeda. Siswa menentukan level terendah tugas mereka dan berlanjut pada level berikutnya.

 

Gaya F: Penemuan Terpandu (Guided Discovery).

Tujuan dari gaya ini adalah untuk menemukan konsep dengan menjawab serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hakikat: dengan menanyakan serangkaian pertanyaan dengan spesifi k, secara sistemaTI k akan menuntun siswa untuk menemukan target yang ditetapkan dan belum diketahui sebelumnya oleh siswa.

 

Gaya G: Penemuan Konvergen.

Pada gaya ini, siswa mencari solusi dari masalah dan belajar untuk mengklarifi kasi isu dan menghasilkan kesimpulan dengan menggunakan prosedur yang logis, beralasan, dan berpikir kriTI s. Hakikat: guru mengajukan pertanyaan. Struktur instrinsik dari tugas atau pertanyaan membutuhkan satu jawaban tepat. Siswa terlibat dalam kegiatan berfi kir (atau kegiatan kogniTI f lainnya) dan berusaha mencari satu jawaban atau solusi yang tepat.

 

Gaya H: Penemuan Mandiri/Produksi (Divergen).

Tujuan gaya ini adalah untuk melibatkan siswa untuk memproduksi atau menghasilkan respon ganda terhadap satu pertanyaan. Hakikat: siswa terlibat dalam memproduksi respon divergen terhadap atu pertanyaan. Struktur instrinsik tugas tau pertanyaan memberikan peluang respon ganda. Respon ganda tersebut dinilai dengan prosedur Mungkin-Terlihat-Menarik (Possible-Feasible-Desirable procedure), atau dengan aturan verifi kasi dari disiplin yang diberikan.

 

Gaya I: Program Rancangan Individu Siswa (Individual Programme).

Tujuan gaya ini adalah untuk merancang, mengembangkan, dan menampilkan serangkaian tugas yang disusun ke dalam program pribadi dengan berkonsultasi dengan guru. Hakikat: Siswa merancang, mengembangkan, dan menampilkan serangkaian tugas yang disusun ke dalam program pribadi. Siswa memilih topik, mengidenTI fi kasi pertanyaan, mengumpulkan data, mencari jawaban, dan menyusun informasi. Siswa memilih area tema umum.

 

Gaya J: Inisiasi Siswa.

Tujuan gaya ini adalah agar siswa mampu menginisiasi atau memprakarsai pengalaman belajarnya, merancangnya, menampilkannya, danmengevaluasinya, bersama-sama dengan guru berdasarkan kriteria yang telah disepakaTI sebelumnya. Hakikat: Siswa memprakarsai gaya yang ia lakukan baik satu kegiatan maupun serangkaian kegiatan. Siswa mempunyai pilihan untuk memilih gaya manapun di dalam Spektrum. Siswa harus mengenal deretan gaya yang terdapat dalam Spektrum.

 

Gaya K: MelaTI h Diri (Shelf Teaching).

Gaya ini memberikan siswa kesempatan untuk membuat keputusan maksimal tentang pengalaman belajarnya tanpa adanya campur tangan langsung guru. Gaya ini sangat jarang digunakan di sekolah. Gaya ini sangat cocok dikembangkan sebagai hobi atau kegiatan hiburan. Hakikat: siswa memprakarsai pengalaman belajarnya sendiri, merancangnya, menampilkannya, dan mengevaluasinya. Siswa memutuskan seberapa besar ikut campur gurunya

 

18. Dalam pembelajaran pendidikan jasmani, guru membawa miniatur lapangan sepak bola. Hal ini

sebagai upaya guru untuk memberi pengalaman yang lebih konkret kepada siswa-siswa yang TI dak

pernah mengalami secara langsung seperTI apa lapangan tersebut sesungguhnya. Miniatur lapangan

sepak bola adalah media dalam bentuk:

A. Obyek nyata

B. Model

C. Kunjungan ke lapangan

D. Materi cetak

E. Audio-visual

Kunci: B

Pembahasan

Jika obyek nyata adalah apa yang sesungguhnya, maka model adalah representasi dari obyek nyata tersebut (Heinich, Molenda, dan Russell, 2002). Model adalah juga media yang kerap dijumpai. Sering ju ga pendidik kita menyebutnya sebagai alat peraga. Jamak kita jumpai guru menggunakan globe untuk merepresentasikan bumi. Atau menggunakan manekin untuk menyajikan tubuh manusia. KeTI mbang ujud aslinya, model bisa jadi lebih besar dari obyek sesungguhnya untuk memberikan detail-detail pada obyek atau lebih kecil agar memungkinkan untuk dibawa ke ruang kelas. Pemberian detail atau me ngurangan detail atas suatu obyek sangat dimungkinkan untuk tujuan pembelajaran. Model juga bisa me miliki kesamaan ukuran dengan apa yang direpresentasikan. Boleh jadi suatu obyek dijadikan model ka rena sulit untuk menggunakan obyek aslinya; apakah itu terlalu mahal, terlalu berbahaya jika diekspos kepada peserta didik, atau melanggar hukum. Selain itu, ada juga model yang dapat dirangkai untuk membelajarkan bagian-bagian dari keseluruhan obyek atau sebuah proses yang terjadi pada obyek tersebut.

 

19. Video pembelajaran yang memuat langkah-langkah guling depan akan memudahkan guru dalam

pembelajaran senam karena video memiliki sifat:

A. Tingkat kerealisTI san yang TI nggi

B. Kemampuan manipulasi ruang

C. Kemampuan manipulasi waktu

D. Represetasinya hampir nyata

E. Semua jawaban benar

Kunci: E

Pembahasan

Sebagai salah satu bentuk media audio visual, video memiliki TI ngkat kerealiTI san yang TI nggi. Coba ingat kembali teori pengalaman belajar dari Edgar Dale. Video merepresentasikan suatu perisTI wa secara hampir nyata, karena seTI daknya memberikan pengalaman visual dan auditorial. Saya menduga, akan banyak guru yang lebih tertarik menggunakan media video untuk membantu pembelajaran mereka keTI mbang jenis media lain karena kerealisTI sannya. Namun sesungguhnya, video memiliki ciri unik melebihi dari sekedar bisa dilihat dan didengar. Ciri unik video menurut Heinich, Molenda, dan Russel (2002) adalah kemampuan video dalam memanipulasi perspekTI f ruang dan waktu. Manipulasi di sini arTI nya rekayasa suatu obyek/kejadian/perisTI wa dengan cara mengubahnya (menambah, mengurangi, memperbesar,memperkecil, menghilangkan) sebagian atau keseluruhan sesuatu tersebut. Memanipulasi ruang dan waktu ini bagi industri fi lm adalah berkah, karena fi lm dapat dibuat dengan cara-cara yang dramaTI k dan kreaTI f. Bagi guru, manipulasi ruang dan waktu dapat berperan penTI ng dalam pembelajaran.

 

20. Berikut ini langkah awal dalam melakukan TI ndakan kelas.

A. Merencanakan

B. Melakukan eksperimen laboratorium

C. Melakukan TI ndakan

D. Refl eksi

E. Observasi

Kunci: A

Pembahasan

PeneliTI an TI ndakan kelas atau biasa disingkat sebagai PTK merupakan jenis peneliTI an yang sangat khas.

Salah satu ciri khas penTI ng pada PTK adalah adanya siklus-siklus dan pada seTI ap siklus ini terdapat

4 tahapan yang mesTI dilalui. Adapun keempat tahap itu adalah: (1) plan (merencanakan); (2) act

(TI ndakan); (3) observe (observasi); dan (4) refl ect (berpikir refl ekTI f atau refl eksi). Tahapan-tahapan

tersebut akan menunjang sebuah siklus PTK. Model apapun yang digunakan dalam metode peneliTI an

TI ndakan kelas pada prinsipnya selalu menggunakan 4 tahapan tersebut, baik secara tersirat maupun

secara langsung tertulis pada bagian metodologinya. Plan (Merencanakan). Pada sebuah peneliTI an

TI ndakan kelas, peneliTI yang merupakan seorang guru setelah menemukan permasalahan di dalam kelas atau pembelajarannya, maka pada ia dapat memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui sebuah kegiatan peneliTI an.

 

21. Obyek material ilmu keolahragaan adalah:

A. Biomekanika

B. Ilmu gizi

C. Manusia yang bergerak

D. Tubuh manusia

E. Sarana prasarana

Kunci: C

Pembahasan

Dalam kajian epistemologis, obyek formal ilmu pengetahuan melipuTI kerangka teori yang membantu

perspekTI f peneliTI dalam melihat obyek material. Contoh obyek formal adalah ekonomi, biologi, fi siologi.

Sedang obyek material melipuTI apa yang diteliTI . Misalnya: benda hidup untuk biologi, masyarakat untuk sosiologi, dan gerak manusia untuk ilmu keolahragaan.

 

22. Dalam pilar fi lsafat, kajian tentang manfaat ilmu keolahragaan disebut sebagai:

A. Aksiologi

B. Ontologi

C. Metafi sika

D. Epistemologi

E. Logika

Kunci: A

Pembahasan

Tiga pilar fi lsafat melipuTI ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi ilmu keolaharagaan mempelajari tentang hakikat, asal usul, dan eksistensi ilmu keolahragaan. Epistemologi mengkaji benarsalah atas sesuatu yang ada (eksis). Dalam ilmu keolahragaan, perspekTI f epistemologi memfokuskan pada bagaimana kebenaran dapat dicapai, apa langkah-langkah dan metodenya. Sedangkan aksiologi membahas tentang eTI ka, esteTI ka, dan manfaat ilmu. Oleh sebab itu, manfaat ilmu keolahragaan menjadi bagian yang dikaji dalam aksiologi.

 

23. Akar olahraga adalah manusia yang bermain. Ciri-ciri suatu akTI vitas dapat disebut permainan adalah:

A. Serius

B. Menggunakan lapangan

C. Tujuannya untuk akTI vitas permainan itu sendiri

D. Melibatkan banyak orang

E. Adanya wasit

Kunci: C

Pembahasan

Permainan adalah bentuk akTI vitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-mata untuk akTI vitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari akTI vitas tersebut.

 

24. Olimpiade kuno dilaksanakan di kota:

A. Athena

B. Olympia

C. Santorini

D. Yunani

E. Evosmos

Kunci: B

Pembahasan

Olimpiade kuno dilaksanakan pertama kali pada tahun 776 sebelum masehi di kota Olympia yang

merupakan wilayah “negara” Yunani. Sedangkan olimpiade modern dihidupkan lagi pada tahun 1896 di

kota Athena, di negara Yunani. Penggagas utama olimpiade modern adalah bangsawan Perancis bernama Pierre Fredy Baron de CouberTI n

 

25. Pada abad ke 19, Olimpiade modern kembali dihidupkan kembali dengan pelopor seorang bangsawan Perancis yang bernama:

A. Robert Baden-Powell

B. Thomas Alva Edison

C. Olimpus

D. Pierre Fredy Baron de CouberTI n

E. Zinadine Zidane

Kunci: D

Pembahasan

Olimpiade kuno dilaksanakan pertama kali pada tahun 776 sebelum masehi di kota Olym pia yang

merupakan wilayah “negara” Yunani. Sedangkan olimpiade modern dihidupkan lagi pada tahun 1896 di

kota Athena, di negara Yunani. Penggagas utama olimpiade mo dern adalah bangsawan Perancis bernama Pierre Fredy Baron de CouberTI n

 

26. Tahapan perkembangan berjalan anak dari usia 0-5 tahun adalah sebagai berikut:

A. Berjingkat, berjalan merambat, berjalan mundur, berlari

B. Berjalan dituntun, berjalan cepat, berlari

C. Berjalan berpegangan, berjalan mundur, berjalan jinjit, meniTI

D. Merangkak, berjalan mengikuTI gerakan binatang, melompat, berlari

E. Berlari, berdiri, merangkak

Kunci: C

Pembahasan

Motorik kasar merupakan gerakan otot-otot besar. Yakni gerakan gerakan yang dihasilkan otot-otot

besar seperTI otot tungkai dan lengan yang biasannya dilakukan melalui gerakan menendang, menjejak,

me raih, dan melempar. Berikut ini adalah gerakan motorik kasar pada usia-usia tertentu. (1) Usia 6-12

bulan : Duduk tanpa dibantu, merangkak, bangkit dan berdiri tanpa bantuan, berjalan dengan di bantu/

dibimbing, meniru menggelindingkan bola. (2) Usia 13-24 bulan/2 tahun: Berjalan sendiri, ber jalan

mundur, menarik dan mendorong alat permainan, duduk sendiri, naik dan turun tangga dengan perto longan, bergoyang-goyang mengikuTI irama musik. (3) Usia 25-36 bulan/3 tahun : Lari tanpa jatuh,

lom pat ditempat dengan kedua kaki jatuh bersamaan, berdiri dengan satu kaki, berjingkat diatas jari-jari kaki, menendang bola. (4) Usia 36-48 bulan/4 tahun : Lari menghindari hambatan/rintangan, berjalan diatas garis, meloncat dengan satu kaki, dapat berdiri dengan satu kaki dan berdiri dengan ujung jari kaki, mendorong, menarik, mengemudikan permainan beroda TI ga, mengendarai sepeda roda TI ga, melempar bola diatas kepala, menangkap bola yang dilemparkan kepadannya. (5) Usia 49-60 bulan/5 tahun : Berjalan mundur dengan tumit berjingkat/jinjit, lompat kedepan sepuluh kali tanpa terjatuh, naik turun tangga dengan kaki berganTI -ganTI (kanan-kiri).

 

27. Menggiring bola dengan kaki termasuk gerak:

A. ManipulaTI f

B. Non-lokomotor

C. Sepakbola

D. Lokomotor

E. OtomaTI sasi

Kunci: A

Pembahasan

Gerak lokomotor adalah gerakan yang ditandai dengan adanya perpindahan tempat, contohnya jalan, lari, lompat, dan mengguling. Sebaliknya, gerak non-lokomotor adalah gerak tubuh yang meminimalkan atau tanpa ada perpindahan tempat. Contoh gerak non-lokomotor adalah meliukkan badan, mengayunkan tangan, membungkuk. Gerak manipulaTI f adalah gerakan atas suatu obyek. Contohnya, menangkap bola, memukul benda, menggiring bola, memvoli.

 

28. Guru dapat membantu perkembangan motorik anak secara emosional dengan cara:

A. Memodifi kasi sarana dan prasarana

B. MemoTI vasi anak untuk bergerak

C. MengkriTI k kesalahan gerak

D. Memberikan laTI han drill

E. Membiarkan anak bermain

Kunci: B

Pembahasan

Perkembangan motorik anak ditentukan oleh banyak faktor. Misalnya, gizi, lingkungan sosial maupun

alam, dan dukungan emosional. Dukungan emosional dari orang dewasa di sekitar anak (orangtua, guru,

atlet role model) akan memberikan moTI vasi Anak untuk mencoba tugas gerak baru dan mengulangnya

sampai TI ngkat mahir.

 

29. Urutan fase-fase belajar Gerak adalah:

A. AsosiaTI f, otoma sasi, kogniTI f

B. OtomaTI sasi, asosiaTI f, kogniTI f

C. KogniTI f, asosiaTI f, otomaTI sasi

D. KogniTI f, otomaTI sasi, asosiaTI f

E. AsosiaTI f, kogniTI f, otomaTI sasi

Kunci: C

Pembahasan

Tingkat kogniTI f ditandai oleh usaha terutama pelaku untuk ketrampilan baru, yang paling lambat dan

TI dak tetap. Dibutuhkan perhaTI an kogniTI f yang cukup untuk menampilkan ketrampilan itu. Tatkala

seseorang baru memulai mempelajari sesuatu tugas; katakanlah keterampilan motorik, maka yang

menjadi pertanyaan baginya ialah, bagaimana cara melakukan tugas itu. Dia membutuhkan informant

mengenai cara melaksanakan tugas gerak yang bersangkutan. Karena itu, pelaksanaan tugas gerak itu

diawali dengan penerimaan informasi dan pembentukan pengerTI an, termasuk bagaimana penerapan

informasi atau pengetahuan yang diperoleh. Pada tahap kogniTI f ini, sering juga terjadi kejutan berupa

peningkatan yang besar dibandingkan dengan kemajuan pada tahap-tahap berikutnya. Pada tahap itu

juga, bukan mustahil siswa yang bersangkutan mencoba-coba dan kemudian sering juga salah dalam

melaksanakan tugas gerakan. Gerakannya memang masih nampak kaku, kurang terkoordinasi, kurang

efi sien, bahkan hasilnya TI dak konsisten. Contoh: Seorang pemula dalam bulutangkis mampu melakukan pukulan service yang “halus” (yakni cock melayang rendah di alas faring dan masuk ke petak service), namun keterampilan tersebut hanya sekali-kali dapat dilakukannya. Pelaku masih mencari-cari hubungan antara cara melaksanakan dan hasil yang dicapai.

Karena itu, masih belum terbentuk satu pola gerak yang konsisten. Siswa yang bersangkutan dihadapkan

dengan tugas yakni apa yang harus dilakukan, sehingga tahap pertama ini oleh Adams disebut tahap

verbal-motor.

Tahap AsosiaTI f ditandai oleh semakin efekTI f cara-cara siswa melaksanakan tugas gerak, dan dia mulai

mampu menyesuaikan diri dengan keterampilan yang dilakukan. Akan nampak penampilan yang

terkoordinasi dengan perkembangan yang terjadi secara bertahap, dan lambat laun gerakan semakin

konsisten. Kemampuan melakukan gerakan dengan obyek/kejadian dari luar dan juga memperbaiki

kekurangan seperTI perhaTI an tentang melakukan gerakan diri sendiri, membiarkan siswa untuk mulai

melakukan hal-hal yang baru. Hal ini juga menguntungkan dalam kemampuan untuk beradaptasi

ke dalam gerakan yang disesuaikan pada berbagai kondisi lingkungan. Contoh: Jika seorang pemula

belajar menembakkan bola ke dalam ring dalam permainan bola basket hanya hampu memasukkan 2-3

tembakan dari 10 kesempatan, maka memasuki tahap asosiaTI f ini, dia makin paham tentang misalnya

berapa kira-kira tenaga yang harus dikerahkan, atau bagaimana peranan dari pergelangan kaki dan jari-jari untuk mengendalikan bola. Gerakannya TI dak lagi untung-untungan, tapi makin konsisten. ArTI nya, gerakannya makin terpola, dan dia semakin menyadari kaitan antara gerak dan hasil yang dicapai. Pada tahap ini, seperti dikemukakan beberapa penulis (misalnya, Adams, l971: FiƩ s. 1964), tahap verbal semakin ditinggalkan dan si pelaku memusatkan perhatiannya pada aspek bagaimana melakukan pola gerak yang baik, ketimbang mencari-cari pola mana yang akan dihasilkan. Dalam eksperimen belajar motorik, tahap itu oleh Adams disebut motor stage (tahap motorik). Dalam tahap otomatisasi siswa memerlukan latihan dengan waktu yang lama. Sebenarnya tahap akhir ini tidak semua siswa akan mencapainya. Di dalam tahap otomatisasi, penampilan mencapai tingkat kecakapan yang paling  tinggi dan telah menjadi otomatisasi . Perhatian siswa selama tahap ini direlokasikan kepada pengambilan keputusan yang strategis. Sebagai tambahan, tugas-tugas ganda dapat dilaksanakan secara serempak. Akhirnya, siswa-siswa di dalam tahap ini bersifat konsisten, merasa yakin/ percaya diri, membuat sedikit; kesalahan dan secara umum dapat mendeteksi dan mengoreksi kesalahan yang mereka lakukan. Contoh: Seorang pemain bola basket yang telah mahir, mampu menembakkan bola secara efektif ke ring meskipun dalam keadaan posisi yang sulit, misalnya karena dia dijaga ketat oleh lawan. Yang menarik bagi kita ialah dalam melaksanakan tugas itu si pelaku tak seberapa banyak menumpahkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dikerjakannya. Selama kegiatan ini hanya sedikit perhatian kognitif yang dibutuhkan agar pelaku dapat memusatkan perhatian pada faktor lingkungan yang mempengaruhi strategi dan penampilan.

 

30. Menyampaikan materi servis bawah pada permainan bola voli dengan cara mengulang-ulang

gerakannya akan lebih cocok untuk siswa yang masih dalam tahap belajar gerak:

A. Asosiatif

B. Afektif

C. Psikomotor

D. Otomatisasi

E. Motorik

Kunci: A

Pembahasan

Tahap Asosiatif ditandai oleh semakin efektif cara-cara siswa melaksanakan tugas gerak, dan dia mulai

mampu menyesuaikan diri dengan keterampilan yang dilakukan. Akan nampak penampilan yang

terkoordinasi dengan perkembangan yang terjadi secara bertahap, dan lambat laun gerakan semakin

konsisten. Kemampuan melakukan gerakan dengan obyek/kejadian dari luar dan juga memperbaiki

kekurangan seperti perhatian tentang melakukan gerakan diri sendiri, membiarkan siswa untuk mulai

melakukan hal-hal yang baru. Hal ini juga menguntungkan dalam kemampuan untuk beradaptasi

ke dalam gerakan yang disesuaikan pada berbagai kondisi lingkungan. Contoh: Jika seorang pemula

belajar menembakkan bola ke dalam ring dalam permainan bola basket hanya hampu memasukkan 2-3

tembakan dari 10 kesempatan, maka memasuki tahap asosiatif ini, dia makin paham tentang misalnya

berapa kira-kira tenaga yang harus dikerahkan, atau bagaimana peranan dari pergelangan kaki dan jarijari untuk mengendalikan bola. Gerakannya tidak lagi untung-untungan, tapi makin konsisten. Artinya, gerakannya makin terpola, dan dia semakin menyadari kaitan antara gerak dan hasil yang dicapai. Pada tahap ini, sepeti dikemukakan beberapa penulis (misalnya, Adams, l971: FiƩ s. 1964), tahap verbal

semakin ditinggalkan dan si pelaku memusatkan perhatiannya pada aspek bagaimana melakukan pola

gerak yang baik, ketimbang mencari-cari pola mana yang akan dihasilkan. Dalam eksperimen belajar

motorik, tahap itu oleh Adams disebut motor stage (tahap motorik).

 

31. Hakikat guru melakukan pemanduan bakat olahraga adalah untuk:

A. Menciptakan atlet hebat

B. Memperkirakan potensi prestasi Anak

C. Memandu anak dalam berolahraga

D. Memilih siswa untuk ekstrakurikuler olahraga

E. Mencari atlet

Kunci: B

Pembahasan

Untuk menjadi atlet berprestasi diperlukan kerja keras dan waktu berlatih yang lama. Jika seseorang

pada hakekatnya tidak memiliki bakat, makan usahanya selama dan sebesar itu tidak akan optimal. Oleh sebab itu, pemanduan bakat di usia dini menjadi sangat penting. Di sinilah peran guru pendidikan jasmani dalam mengenali dan memilih atalet yang memiliki kemampuan. Tujuan pemanduan bakat adalah untuk memperkirakan seberapa besar bakat seseorang untuk berpeluang berprestasi tinggi di kemudian hari.

 

32. Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemanduan bakat adalah:

A. Anatomis dan fi siologis

B. Tinggi badan, keterampilan olahraga, status gizi

C. Status gizi dan makanan

D. Biologis, biomotor, fi siologis

E. Psikologi dan tingkat emosi

Kunci: D

Pembahasan

Atlet yang berkemampuan tinggi mempunyai profi l biologis yang spesifik, kemampuan biomotor yang

tinggi dan sifat fi siologis yang kuat. Oleh sebab itu, faktor-faktor ini merupakan hal penting dalam

pemanduan bakat dan harus diperhatikan oleh guru pendidikan jasmani.

 

33. Seorang pemain menggenggam raket dengan kencang. Otot yang bekerja untuk menggengam raket

tersebut mengalami kontraksi:

A. Isotonik

B. Isometrik

C. Eksentrik

D. Fleksi

E. Ekstensi

Kunci: B

Pembahasan

Kontraksi Isotonik: Dalam kegiatan olahraga salah satu contoh nyata kontraksi isotonik adalah ketika

lengan seseorang mengangkat dumble. Untuk mengangkat dumble dari posisi lengan lurus menjadi

lengan di tekuk, otot biceps brachii berkontraksi dalam pola kerja isotonik. Isotonik diartikan sebagai pola kontraksi yang berpegang pada tonusnya tetap, sebaliknya panjang ukuran oto berubah/memendek.

Kontraksi isotonik juga disebut kontraksi otot kontraksi konsentris atau dinamis. Secara anatomis otot

biceps brachii berlokasi di lengan atas anterior. Otot ini mempunyai origo di tulang scapula. Tepatnya

adalah di proseseus coracoideus dan supra glenoidalis scapula. Sedang intersisnya ada di tulang radius

(tuberositas radial). Ketika berkontraksi isotonik maka lengan bawah akan terangkat ke atas atau fl eksi

lengan terjadi.

Kontraksi Isometrik: Dalam olahraga, menggemgam raket tenis merupakn salah satu contoh kontraksi

iso metrik otot lengan bawah. Pada saat ini otot lengan bekerja mampertahankan agar raket tidak lepas.

Musculus fl eksor digitorum superfi cialis dan profondus adalah otot yang berlokasi dibagian anterior

lengan bawah. Keduanya memiliki origo di tulang humerus, ulna dan radius (didaerah siku), sedangkan

insersinya ada pada basic phalangea I dan II. Dalam memegang raket tenis, otot ini mula- mula berkontraksi secara isotonik yang menghasilkan fl eksi pada jari-jari tangan. Selanjutnya otot ini berkontraksi isometrik yang menghasilkan dipertahankannya fl eksi jari-jari untuk menggemgam gagang raket Disebut isometrik di ambil dari istilah Iso yang artinya tetap dan metric yang mengambarkan ukuran. Kontraksi Isometrik adalah kontraksi dimana otot tidak mengalami perubahan ukuran. Kontraksi Eksentrik: Ketika lengan mengangkat sebuah dumbel merupakan contoh nyata kontraksi isotonik, maka jika dumbel diturunkan kembali otot biceps brachii mengalami kontraksi eksentrik Untuk dapat turun secara perlahan atau lengan kembali ekstensi, maka otot biceps brachii harus bekerja dalam pola kerja eksentrik. Disebut eksentrik sebab serabut-serabut otot bergeser keluar dari pusat/centranya. Kontraksi Isokinetik: Dasar Pola Isokinetik adalah Pola Isokinetik, yakni otot mengalami pemendekan. Perbedaan yang nyata adalah :

1. Bila kontrakasi isotonik setiap lintasan gerak otot menanggung beban yang sama, pada kontraksi isokinetik beban yang ditanggung tidak sama.

2. Bila pada kontraksi isotonik kecepatan dalam menempuk lintasan gerak tidak rata, pada kontraksi isokinetik kecepatan dalam menempuh jarak lintasan adalah rata. Kontraksi Plyometrik: Pada dasar pola plyometrik adalah pola isotonik, yakni otot mengalami pemendekan ke arah pusat sarcomere dengan didahului tarikan pemanjangan. Dalam kegiatan olahraga kontraksi ini diwujudkan dalam kerja yang meledak (melempar, meloncat). Disebut plyometrik dari istilah piyo dan metrik. Piyo berarti berlapis-lapis, sedangkan metrik artinya ukuran panjang.sehingga plyometrik artinya suatu kontraksi yang mempunyai lapisan-lapisan kecepatan gerak pada setiap perubahan ukuran panjang.Arti nya dalam berkontraksi kecepatan antara meter pertama,kedua adan seterusnya ditempuh dengan yang makin pendek(tidak sama).

 

34. Dasar-dasar fi sika yang digunakan dalam biomekanika adalah:

A. Kekuatan, panas, cahaya

B. Keseimbangan, gerak, gaya

C. Gravitasi, pendulum, elektromagnetik

D. Temperatur, gaya, periode

E. Massa, gaya, pengungkit

Kunci: B

Pembahasan

Dasar-dasar biomekanika ditunjang oleh fi sika. Fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat

dan fenomena alam dan seluruh interaksi yang terjadi di dalamnya. Kajian fi lsafat meliputi panas, bunyi,

cahaya, kesimbangan, gerak, gaya. Dasar fi sika yang digunakan dalam biomekanika adalah keseimbangan, gerak, dan gaya.

 

35. Ilmu-ilmu yang menunjang biomekanika:

A. Matematika, biologi, kinesiologi

B. Biologi, mekanika, motorik

C. Mekanika terapan,biologi, fi siologi

D. Kimia, fi sika, matematika

E. Biomotorik

Kunci: C

Pembahasan

Biomekanika didefi nisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada system biologi. Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi dan fi siologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semua tubuh mahluk hidup. Dalam biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep, analisis, disain dan pengembangan per alatan dan sistem dalam biologi dan kedokteran. Mekanika adalah salah satu cabang ilmu dari bidang ilmu fi sika yang mempelajari gerakan dan perubahan bentuk suatu materi yang diakibatkan oleh gangguan mekanik yang disebut gaya. Mekanika adalah cabang ilmu yang tertua dari semua cabang ilmu dalam fi sika. Sedangkan, mekanika teknik atau disebut juga denagn mekanika terapan adalah ilmu yang mempelajari peneraapan dari prinsip-prinpsip mekanika. Mekanika terapan mempelajari analisis dan disain dari sistem mekanik.

 

36. Biomekanika penting untuk dipelajari, karena:

A. Meningkatkan stamina atlet dalam waktu singkat

B. Memungkinkan pembelajaran pendidikan jasmani lebih bermakna

C. Mencetak juara secara cepat dan hemat biaya

D. Mengembangkan gerak dasar olahraga yang lebih efi sien dan efektif

E. Gerak dalam olahraga sulit untuk dipahami

Kunci: D

Pembahasan

Biomekanika erat kaitanya dengan ilmu keolahragaan sehingga, biomekanika memiliki fungsi penting

bagi guru pendidikan jasmani dan pelatih olahraga, dalam hal ini fungsi dan kegunaan biomekanika bagi

guru pendidikan jasmani dan pelatih olahraga menurut Arma Abdulah ( 1994 : 202 ) dijelaskan bahwa;

(1) pemahaman biomekanika akan menghasilkan peningkatan pengetahuan tentang kerumitan fungsi

anatomis – fi siologi – dan mekanika dari tubuh manusia dan akan membantu meniadakan kesalahan

yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar keterampilan, sehingga dapat meningkatkan

perkembangan unjuk kerja keterampilan khusus lebih cepat dan sempurna; (2) pengetahuan biomekanika juga penting bagi atlet karena ia akan menyadari kekeliruan untuk mencoba meniru gaya atlet lain karena gaya tersebut memberikan keberhasilan bagi atlet tersebut, sehingga atlet harus mengembangkan gayanya sendiri, sebab pada umumnya Ɵ dak ada dua manusia yang sama dalam karakterisƟ k jasmani, seperƟ kekuatan otot, kelentukan, Ɵ pe tubuh dan begitupula karakterisƟ k psikologis. Dengan demikian pada penyampaian yang kedua dapat gigunakan oleh para pelaƟ h olahraga untuk mengenal karakterisƟ k dan kemampuan atlet, sehingga memiliki cara untuk mengembangkan kemampuan dan prestasi atlet.

Secara garis besar fungsi dan kegunaan biomekanika pada guru pendidikan jasmani maupun peltih

olahraga, yakni;

a. Memberikan dasar ilmu pengetahuan untuk mengambil keputusan berkenaan dengan keterampilan

dan gerak dasar pada olahraga.

b. Sebagai dasar untuk memperoleh jawaban tentang masalah dalam unjuk kerja (Praktek) olahraga.

c. Pirinsip serta asasnya dipakai dalam meberikan assasment dan koreksi terhadap unjuk kerja yang

dilakukan oleh peserta didik/atlet.

d. Mampu dalam mengembangkan gerak dasar olahraga yang lebih efi sien dan efi sien

 

37. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi gaya eksternal (external force) dalam mekanika

gerak manusia, kecuali:

A. Daya tarik bumi

B. Gesekan

C. Gaya reaksi dari tanah

D. Tahanan udara

E. Kontraksi otot

Kunci: E

Pembahasan

Dalam aktivitas olahraga gaya berasal dari dua sumber, yaitu gaya internal (internal force) dan gaya eksternal (external force). Internal force diciptakan dari dalam tubuh seseorang akibat hasil kontraksi antara otot-otot yang melakukan aktivitas tarik menarik melalui tendon kemudian tendon memberi isyarat kontraksi kepada tulang yang menghasilkan suatu gerakan atau tahanan, sedangkan external force adalah suatu gaya yang tercipta karena adanya pengaruh dari faktor gravitasi, gaya reaksi dari tanah, gesekan, tahanan udara dalam berbagai aktivitas pada cabang olahraga yang menghasilkan suatu gaya dorongan atau tarikan.

 

38. Di bawah ini adalah organ-organ yang menjadi sistem utama kardiovaskular:

A. Paru-paru, jantung, pembuluh darah

B. Jantung, tulang, otot

C. Ligamen, paru-paru, usus kecil

D. Pembuluh darah, jantung, persendian

E. Darah, jantung, ginjal

Kunci: A

Pembahasan

Sistem peredaran darah manusia memiliki tiga komponen penting yang masing-masingnya saling

berkaitan. Tiga komponen ini mengatur jalannya pengangkutan dan penerimaan kembali darah ke dan

dari seluruh tubuh. Berikut merupakan tiga komponen utama sistem sirkulasi darah manusia.

(1) Jantung: Sel darah diproduksi dalam sumsum tulang. Nah, jantung adalah organ paling vital dalam

sistem peredaran darah yang fungsinya memompa dan menerima darah ke seluruh tubuh. Letak jantung ada di antara paru-paru. Tepatnya di tengah dada, di bagian belakang kiri tulang dada. Ukuran jantung kira-kira sedikit lebih besar dari kepalan tangan Anda, yakni sekitar 200-425 gram.

Jantung Anda terdiri atas empat ruang, yakni serambi (atrium) kiri dan kanan serta bilik

(ventrikel) kiri dan kanan. Jantung memiliki empat katup yang memisahkan keempat ruang tersebut. Katup jantung berfungsi menjaga aliran darah mengalir ke arah yang benar. Katup ini termasuk katup trikuspid, mitral, paru, dan aorta. Setiap katup memiliki fl aps, yang disebut leafl et

atau cusp, yang membuka dan menutup sekali setiap jantung Anda berdetak.

(2) Pembuluh darah adalah pipa elastis yang menjadi bagian dari sistem sirkulasi darah. Pembuluh

berfungsi untuk membawa darah dari jantung ke bagian tubuh lain atau sebaliknya. Ada tiga

pembuluh darah utama yang terdapat di jantung, yaitu:

• Arteri, membawa darah yang kaya akan oksigen dari jantung ke bagian tubuh lainnya. Arteri

memiliki dinding yang cukup elastis sehingga mampu menjaga tekanan darah tetap konsisten.

• Vena, pembuluh darah yang satu ini membawa darah yang miskin oksigen dari seluruh tubuh

untuk kembali ke jantung. Dibandingkan dengan arteri, vena memiliki dinding pembuluh yang

lebih tipis.

• Kapiler, pembuluh darah ini bertugas untuk menghubungkan arteri terkecil dengan vena terkecil.

Dindingnya sangat tipis sehingga memungkinkan pembuluh darah untuk bertukar senyawa

dengan jaringan sekitarnya, seperti karbon dioksida, air, oksigen, limbah, dan nutrisi.

(3) Darah: Tubuh manusia rata-rata mengandung sekitar 4-5 liter darah. Darah berfungsi untuk mengangkut nutrisi, oksigen, hormon, dan berbagai zat lainnya dari dan ke seluruh tubuh Anda. Tanpa

da rah, bisa dipastikan oksigen dan sari makanan akan sulit disalurkan dengan baik ke seluruh tubuh.

Darah terdiri atas beberapa komponen, yaitu:

• Plasma darah. Plasma darah mengisi sekitar 55-60 persen dari volume darah dalam tubuh. Tugas

uta ma plasma darah adalah mengangkut sel-sel darah untuk kemudian diedarkan ke seluruh tubuh

bersama nutrisi, hasil limbah tubuh, antibodi, protein pembekuan darah, dan bahan ki mia, seperti

hormon dan protein yang bertugas untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

• Sel darah merah (eritrosit). Sel darah merah bertugas membawa oksigen dari paru-paru untuk

diedarkan ke seluruh tubuh. Sel darah ini juga bertugas mengangkut kembali karbon dioksida

dari seluruh tubuh ke paru-paru untuk dikeluarkan.

• Sel darah putih (leukosit). Meski memiliki jumlah yang lebih sedikit dibanding sel darah merah, sel darah putih mengemban tugas yang tak main-main. Sel darah putih bertanggung jawab untuk melawan infeksi virus, bakteri, dan jamur yang memicu perkembangan penyakit. Hal ini disebabkan karena sel darah putih memproduksi antibodi yang akan membantu memerangi zat asing tersebut. Keping darah (trombosit). Trombosit memiliki peran penting proses pembekuan darah (koagulasi) saat tubuh terluka. Tepatnya, trombosit akan membentuk sumbatan bersama benang fibrin guna menghentikan perdarahan sekaligus merangsang pertumbuhan jaringan baru di area luka.

 

39. Pemecahan Adenosin Triposfat (ATP) menjadi Adenosin Diposfat (ADP) + Posfat inorganic (Pi) dalam

otot akan menghasilkan:

A. Daya tahan

B. Cidera otot

C. Energi

D. Oksigen

E. Kelelahan

Kunci: C

Pembahasan

Energi yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan makanan tidak dapat secara langsung digunakan untuk proses kontraksi otot atau proses-proses yang lainnya. Energi ini terlebih dahulu diubah menjadi senyawa kimia berenergi tinggi, yaitu Adenosine Tri Phosphate (ATP). ATP yang terbentuk kemudian diangkut ke setiap bagian sel yang memerlukan energi. Adapun proses biologis yang menggunakan ATP sebagai sumber enereginya antara lain: proses biosintesis, transportasi ion-ion secara aktif melalui membran sel, kontraksi otot, konduksi saraf dan sekresi kelenjar. Apabila ATP pecah menjadi Adenosine Diposphate (ADP) dan Phosphate inorganic (Pi), maka sejumlah energi akan dilepaskan. Energi inilah yang akan gunakan untuk kontraksi otot dan proses-proses biologi lainnya

 

40. Jika mengalami tekanan psikis ketika sedang bertanding, anak akan berpotensi untuk mengalami:

A. Peningkatan konsentrasi

B. Penurunan kecemasan

C. Peningkatan kecemasan

D. Peningkatan stamina

E. Penurunan emosi

Kunci: C

Pembahasan

Gejala- gejala rasa cemas dan stress dalam pertandingan misalnya rasa cemas, rasa khawatir, ketegangan, kebingungan, kurang atau hilang konsentrasi, dan rasa percaya diri yang menurun suatu pertandingan.


  • SOAL DAN KUNCI JAWABAN PPPK PJOK SD SMP SMA/SMK TERBARU (DISINI

Demikianlah postingan kali ini mengenai soal latihan PPPK untuk guru mata pelajaran penjas jenjang SD, SMP, SMA/SMK yang dapat saya sajikan pada kesempatan kali ini  semoga beberapa soal latihan diatas bisa membantu anda yang akan mendaftar seleksi PPPK sebagai bahan dalam belajar mandiri untuk persiapan menghadapi seleksi PPPK nantinya.

Sekian dan Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel